Serangan Israel di wilayah timur Beirut, Lebanon menewaskan seorang pejabat lokal dari partai Kristen dan dua warga sipil pada Minggu (5/4).
Insiden ini memperdalam perpecahan internal di Lebanon di tengah konflik yang terus meluas.
Serangan tersebut menghantam sebuah apartemen di Ain Saadeh, kawasan mayoritas Kristen di perbukitan timur Beirut. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut tiga orang tewas, yakni seorang pria dan dua perempuan.
Mengutip Reuters, Partai Pasukan Lebanon mengidentifikasi dua korban sebagai Pierre Moawad, pejabat lokal partai, dan istrinya Flavia.
Anggota parlemen Pasukan Lebanon, Razi El Hage, mengatakan Lebanon kini harus menanggung dampaknya.
"Kami membayar harga mahal dari perang yang menyeret kami, yang dipicu oleh organisasi tanpa hukum, Hizbullah," ujarnya.
Militer Israel menyatakan telah menyerang "target teroris di timur Beirut", namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
"Laporan bahwa beberapa warga sipil terdampak sedang kami tinjau," kata pihak militer, seperti dilansir Reuters.
Warga sekitar lokasi serangan mengaku tidak melihat aktivitas mencurigakan di apartemen yang menjadi sasaran.
"Saya sudah tinggal di sini 20 tahun, bahkan tidak pernah melihat apartemen itu menyala. Tidak ada orang di dalamnya," kata Antoine Aalam, warga setempat.
Di hari yang sama, serangan lain di Beirut selatan dilaporkan menewaskan lima orang, sementara serangan di Lebanon selatan menewaskan sepasang suami istri dan melukai dua anak mereka.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa stabilitas dalam negeri harus dijaga di tengah konflik.
"Prioritas utama kami adalah menjaga perdamaian sipil, dan itu adalah garis merah," ujarnya.
Sejak konflik memanas, otoritas Lebanon melaporkan lebih dari 1.460 orang tewas dan lebih dari satu juta warga mengungsi akibat serangan yang terus meluas.





