KOMPAS.com - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan infrastruktur nasional melalui proyek strategis Jalan Tol Ancol Timur–Pluit (Elevated) atau Harbour Road II.
Proyek tersebut merupakan salah satu solusi penting dalam mengurai kepadatan lalu lintas sekaligus meningkatkan konektivitas di kawasan Jakarta Utara.
Dengan panjang mencapai 9,7 kilometer (km), tol layang itu menghubungkan kawasan Ancol Timur hingga Pluit dan melintasi sejumlah titik vital, seperti Tanjung Priok dan Jalan RE Martadinata.
Kehadiran Harbour Road II diharapkan dapat meningkatkan kapasitas jalan eksisting serta memperlancar distribusi logistik menuju kawasan pelabuhan dan pusat kegiatan ekonomi.
Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito (Agung BW) menyampaikan, proyek tersebut tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menghadirkan inovasi dan nilai tambah bagi masyarakat.
Baca juga: Bos WIKA Ungkap Rencana Merger 7 BUMN Karya, Realisasi Akhir 2026
Dia menjelaskan, Harbour Road II merupakan salah satu proyek strategis yang menunjukkan kapabilitas WIKA dalam menghadirkan solusi infrastruktur modern di tengah kompleksitas kawasan urban.
“Kami berkomitmen untuk menyelesaikan proyek ini dengan kualitas terbaik, tepat waktu, serta memberikan dampak positif bagi mobilitas dan pertumbuhan ekonomi," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (6/4/2026).
Proyek Harbour Road II dikerjakan WIKA bersama PT Girder Indonesia (GI) dengan skema design and build, dengan nilai kontrak sebesar Rp 5,02 triliun dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026.
Salah satu keunggulan utama Harbour Road II terletak pada keunikan desain dan metode konstruksinya.
Proyek tersebut mengusung struktur jalan layang bertingkat tinggi hingga sekitar 38 meter (m) di atas permukaan tanah sehingga menjadikannya salah satu struktur elevated tertinggi di kawasan perkotaan padat.
Baca juga: Buka-bukaan Rapor Keuangan, WIKA Klaim Utang Susut Rp 3,5 Triliun
Selain itu, proyek tersebut menggunakan teknologi segmented box girder dengan lebar mencapai 14,3 m.
Teknologi itu termasuk dalam kategori terlebar tanpa ribs sehingga memberikan efisiensi sekaligus kekuatan struktur yang optimal.
Tak hanya itu, Harbour Road II juga mencatatkan bentang steel box girder terpanjang tanpa shoring hingga 70 m.
Proyek tersebut dibangun secara end-to-end elevated di tengah keterbatasan ruang, berdampingan dengan jalan tol eksisting, jalur kereta api, sungai, hingga kawasan permukiman dan bangunan eksisting.
Kondisi itu menuntut penerapan metode konstruksi berpresisi tinggi, seperti bored pile, column pier, pier head, hingga erection girder yang terintegrasi.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, Harbour Road II tidak hanya menjadi proyek infrastruktur, tetapi juga merepresentasikan inovasi konstruksi modern di Indonesia.
Baca juga: WIKA Beton Ubah Strategi, Pasar Swasta Jadi Penopang Utama Kinerja
Kehadiran tol layang dengan desain ikonik itu diharapkan mampu memberikan dampak signifikan dalam mengurangi kemacetan, meningkatkan efisiensi logistik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan pesisir utara Jakarta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




