jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno meminta pemerintah sigap mengantisipasi potensi lonjakan harga berbagai produk kebutuhan masyarakat, seperti plastik hingga pupuk.
Hal ini merupakan dampak berantai dari krisis energi yang dipicu oleh penutupan jalur strategis Selat Hormuz.
BACA JUGA: Diduga Dipicu Remaja Main Petasan, Pabrik Plastik di Rawa Buaya Hangus Terbakar
alam keterangan resminya di Jakarta, Senin (6/4), Eddy menjelaskan bahwa Selat Hormuz merupakan urat nadi pasokan migas dunia.
Penutupan jalur tersebut dipastikan akan mengurangi pasokan produk minyak dan gas secara global, yang berujung pada melambungnya harga produk-produk turunan berbasis hidrokarbon.
BACA JUGA: Kampanye Indonesia Asri Ajak Generasi Muda Bijak dalam Pengelolaan Plastik
“Sejumlah kebutuhan esensial yang bahan bakunya bersumber dari minyak dan gas telah atau akan mengalami kenaikan harga," ujarnya.
Saat ini, lanjut Eddy, selain minyak mentah dan gas, produk jadi dari turunan migas seperti plastik, pupuk, obat-obatan dan pakaian jadi merupakan barang-barang yang biaya produksinya melonjak sehingga otomatis harga jualnya juga akan meningkat.
BACA JUGA: Tekan Penggunaan Botol Plastik, Modena Hadirkan Lebih Banyak Air Minum Gratis
Ia mengapresiasi pemerintah yang menanggung kenaikan harga BBM agar tidak menggerus daya beli masyarakat. Namun, Eddy meminta pemerintah mengantisipasi gejolak harga yang bergerak naik akibat krisis energi global saat ini.
"Pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan harga produk plastik seperti kemasan mie instan, air minum kemasan, peralatan rumah tangga dan lain-lain. Harga pangan otomatis juga akan mengalami karena kenaikan harga pupuk yang menggunakan bahan baku gas telah naik juga," katanya.
Eddy meyakini pemerintah akan menyediakan bantalan atau menyerap dampak dari kenaikan berbagai kebutuhan utama masyarakat, khususnya masyarakat ekonomi lemah melalui subsidi atau bantalan sosial lainnya.
"Namun demikian sebagai anggota masyarakat kita juga punya tanggung jawab untuk melakukan aksi penghematan energi serta daur ulang, khususnya plastik," ungkapnya.
Oleh karena itu, ia mendukung jika pemerintah mengkampanyekan program efisiensi nasional.
"Di antaranya agar makanan tidak terbuang secara mubazir, mengurangi penggunaan kemasan plastik serta pemberian insentif bagi masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum, khususnya kendaraan umum listrik seperti bis listrik atau MRT," tutur Eddy.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean




