Big Tech AS Berpotensi Alihkan Investasi ke ASEAN Imbas Iran Rudal Data Center

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Iran mulai mengincar fasilitas milik perusahaan teknologi Amerika Serikat yang ada di Timur Tengah. Raksasa teknologi pun dinilai berpotensi mengalihkan investasinya ke negara lain, termasuk Asia Tenggara.

Fasilitas komputasi awan alias cloud Amazon, Amazon Web Services (AWS) di Timur Tengah misalnya, mengalami serangan Iran setidaknya dalam empat kesempatan terpisah, dengan tiga serangan di antaranya terjadi di Bahrain dalam sebulan terakhir.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga dikabarkan pada Minggu (5/4), mengancam akan mengebom pusat data Al Stargate di Uni Emirat Arab (UAE)  Proyek Stargate diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada awal tahun lalu ini, didukung oleh Softbank Jepang, raksasa teknologi Amerika seperti Oracle, Cisco, Nvidia, OpenAl, serta G42 UEA.

IRGC sebelumnya mengancam akan menyerang fasilitas milik 18 perusahaan teknologi dan keuangan AS yang beroperasi di Timur Tengah. Daftar perusahaan yang ditampilkan yakni Cisco, HP, Intel, Oracle, IBM, Dell, Palantir, JPMorgan, Tesla, GE, Spire Solutions, Boeing, dan perusahaan AI yang berbasis di UEA, G42.

Serangan terhadap perusahaan-perusahaan tersebut akan dimulai pukul 8 malam pada hari Rabu, 1 April, kata Garda Revolusi dalam unggahan di Telegram yang diterjemahkan oleh Google.

“Serangan-serangan tersebut menandakan bahwa pusat data kini dapat dianggap sebagai target yang sah untuk diserang dalam konflik bersenjata modern,” kata direktur di lembaga think tank Center for Strategic and International Studies Aalok Mehta dikutip dari CNBC Internasional, beberapa waktu lalu. “Hal ini akan secara signifikan mengubah cara perusahaan memikirkan keamanan pusat data di masa mendatang.”

Perusahaan infrastruktur AI kemungkinan akan membuat rencana darurat karena perang ini. “Baik dengan mempertimbangkan untuk pindah ke wilayah yang kurang rentan atau dengan memperkuat pusat data saat ini dan di masa mendatang dengan teknologi pertahanan rudal dan anti-drone,” katanya.

Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi telah menginvestasikan miliaran dolar ke dalam proyek infrastruktur AI di Timur Tengah. Hal ini karena harga energi dan lahan yang murah dan mudah didapat, serta dukungan pemerintah setempat.

Namun, perang Iran yang meluas ke negara-negara tetangga di Timur Tengah menimbulkan pertanyaan tentang masa depan pembangunan pusat data dan infrastruktur digital di kawasan ini, terutama jika konflik tersebut berkepanjangan.

Meskipun perang Iran kemungkinan besar tidak akan membuat perusahaan penyedia layanan cloud skala besar meninggalkan pembangunan infrastruktur AI yang sudah ada di kawasan itu, hal ini dapat berdampak pada investasi di masa depan jika permusuhan berkepanjangan.

“Mungkin akan ada ‘pergeseran lokasi pembangunan kapasitas gelombang berikutnya’,” kata Direktur Eksekutif Unit Geopolitik di Hilco Global Patrick J. Murphy kepada CNBC Internasional, beberapa waktu lalu.

“Jika risiko geopolitik terus meningkat di Teluk, perusahaan mungkin akan mempercepat proyek di tempat-tempat seperti Eropa Utara, India, atau Asia Tenggara, di mana pasokan listrik, kerangka peraturan, dan kondisi keamanan lebih mudah diprediksi,” Murphy menambahkan.

Meski begitu, Direktur Senior di lembaga think tank Atlantic Council, Tess deBlanc-Knowles menilai, Timur Tengah masih memiliki daya tarik bagi perusahaan yang ingin membangun infrastruktur AI.

“Kawasan ini tetap menarik bagi perusahaan dalam hal modal dari dana kekayaan negara, dukungan pemerintah, ketersediaan energi, dan perannya sebagai pintu gerbang ke pasar di belahan bumi selatan,” kata Tess.

Pemerintah di Timur Tengah kemungkinan juga akan berlomba untuk meyakinkan perusahaan-perusahaan AS dan mendorong mereka untuk mempertahankan komitmen di kawasan tersebut.

“UEA memandang pengembangan AI sebagai hal yang sangat penting bagi masa depan mereka dan sangat bergantung pada teknologi ini,” kata Mehta.

“UEA menginvestasikan miliaran dolar untuk mendukung transisi AI dan juga memainkan peran sentral dalam memfasilitasi banyak kemitraan infrastruktur AI besar,” Mehta menambahkan.

Mengingat besarnya biaya yang diinvestasikan pada fasilitas yang sudah beroperasi, di samping kontrak listrik, perjanjian lahan, dan konektivitas serat optik, kecil kemungkinan perusahaan AI berskala besar akan mempertimbangkan untuk memindahkan kapasitas yang sudah dibangun. 

“Pusat data biasanya perlu berlokasi dekat dengan pelanggan untuk memastikan latensi rendah dan layanan yang andal,” kata analis ekuitas senior di Morningstar, Tancrede Fulop. “Oleh karena itu, memindahkan atau menutup fasilitas dapat menyebabkan pelanggaran perjanjian tingkat layanan dan risiko reputasi.”

Namun, perencanaan skenario seputar perang Iran dan dampaknya terhadap kawasan Timur Tengah yang lebih luas akan menjadi beban bagi komite investasi dan dewan direksi.

Alih-alih meninggalkan wilayah tersebut, perusahaan dapat mengambil langkah-langkah untuk mengamankan investasi dengan memperlambat penyebaran modal baru atau menunda kemitraan yang direncanakan, menurut deBlanc-Knowles.

Jika konflik berlanjut atau meningkat, langkah-langkah antisipasi tersebut dapat berali menjadi evaluasi pusat regional alternatif untuk mengurangi paparan terhadap gangguan berkelanjutan dari konflik regional yang lebih luas.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Muenchen Kokoh di Puncak Klasemen Menuju Akhir Musim Bundesliga
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Indeks Bisnis-27 Dibuka Bertenaga, Saham BUMI, MEDC, hingga ADRO Melaju
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Lyon Ditahan Angers 0-0, Posisi Klasemen Tergeser di Liga Prancis
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Demiane Agustien: Talenta Muda Berdarah RI, Cetak Gol Kemenangan Arsenal U-21
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Siap-Siap! Harga Air Minum Kemasan Naik Imbas Krisis Bahan Baku Plastik
• 9 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.