PASUKAN Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) mengingatkan bahwa meningkatnya konflik bersenjata antara Israel dan Hizbullah berisiko serius terhadap keselamatan pasukan penjaga perdamaian yang bertugas di wilayah Libanon selatan.
Juru Bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, menyampaikan kekhawatiran atas intensitas baku tembak yang terus terjadi di sekitar area operasi PBB. Ia menegaskan bahwa tentara Israel dan pejuang Hizbullah “terus menerus menembakkan proyektil dan peluru ke atau di dekat posisi” misi tersebut.
Dalam keterangan resminya pada Minggu (5/4), Ardiel mengungkapkan bahwa insiden tembak-menembak tersebut telah menyebabkan sejumlah personel penjaga perdamaian gugur maupun mengalami luka-luka.
Baca juga : Indonesia Desak DK PBB Gelar Rapat Darurat, Pakar Soroti Tantangan Investigasi Serangan UNIFIL
"Kedua belah pihak juga telah melakukan serangan dari dekat posisi PBB, yang berpotensi memicu tembakan balasan," ujarnya.
Ia juga menyoroti keberadaan para kombatan yang berada di sekitar lokasi tempat pasukan penjaga perdamaian tinggal dan menjalankan tugas.
"Aksi-aksi ini membahayakan pasukan penjaga perdamaian," kata dia.
Baca juga : Anggota TNI yang Gugur di Libanon Dimakamkan di Taman Makan Pahlawan
Lebih lanjut, Ardiel mengingatkan seluruh pihak terkait akan kewajiban mereka dalam menjamin keselamatan personel PBB, termasuk menghormati status kekebalan wilayah yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
UNIFIL juga mendesak semua pihak yang terlibat konflik untuk menghentikan kekerasan dan mulai mengambil langkah konkret menuju gencatan senjata. Menurutnya, “tidak ada solusi militer untuk konflik ini”.
Misi tersebut menegaskan bahwa konflik berkepanjangan hanya akan memperparah dampak kemanusiaan, dengan meningkatnya jumlah korban jiwa dan kerusakan.
Sebagai latar belakang, Israel diketahui melancarkan serangan udara dan operasi darat di Lebanon selatan sejak insiden lintas batas yang dilakukan oleh Hizbullah pada 2 Maret, meskipun kesepakatan gencatan senjata sebenarnya telah berlaku sejak November 2024.
Sejak awal Maret, kelompok Hizbullah juga terus menembakkan roket ke wilayah Israel sebagai respons atas operasi militer Israel di Lebanon, serta menyusul terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatullah Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. (Ant/E-4)





