TIMNAS panjat tebing Indonesia mulai mematangkan persiapan dalam ajang World Climbing Asia Championship 2026 di Meishan, Tiongkok. Fokus utama tim pelatih saat ini adalah menyelaraskan ritme biologis dan fisik para atlet dengan jadwal pertandingan yang terbagi dalam dua sesi ekstrem: pagi dan malam.
Pelatih disiplin speed, Galar Pandu Asmoro, mengungkapkan bahwa penyesuaian ini sangat krusial mengingat babak kualifikasi akan berlangsung pada pagi hari, sementara fase final yang menentukan digelar pada malam hari. Strategi ini telah diterapkan sejak masa pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Bekasi.
"Dengan waktu yang terbatas, tim mencoba menyesuaikan waktu latihan dengan kondisi di Tiongkok. Kami memajukan jadwal latihan pagi dari pukul 08.30 WIB menjadi 07.30 WIB untuk menyiasati selisih waktu satu jam dengan Tiongkok, sekaligus menambah sesi latihan malam untuk simulasi babak final," ujar Galar, Senin (6/4).
Baca juga : Panjat Tebing Indonesia Bidik Empat Medali dari Asian Games 2026
Mengejar Tiket Aichi-Nagoya 2026Turnamen yang berlangsung pada 7-12 April ini merupakan gerbang utama menuju Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang. Untuk disiplin speed, para atlet diwajibkan menembus minimal peringkat delapan besar guna mengamankan tiket ke ajang olahraga terbesar di Asia tersebut.
Hingga saat ini, Indonesia telah memastikan tiga wakilnya lolos ke Asian Games 2026 melalui disiplin lain, yakni Putra Tri Ramadani (lead putra), Sukma Lintang Cahyani (lead putri), dan Ravianto Ramadhan (boulder putra). Kejuaraan di Meishan menjadi harapan besar bagi tim speed untuk menyusul kesuksesan tersebut.
Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) mengirimkan total 16 atlet terbaiknya. Skuad ini terdiri dari sembilan atlet spesialis speed serta tujuh atlet untuk nomor lead dan boulder.
*Raviandi Ramadhan menjadi satu-satunya atlet yang turun di dua disiplin (Lead & Boulder).
Galar menambahkan bahwa strategi adaptasi ini disusun berdasarkan evaluasi mendalam dari berbagai kejuaraan dunia IFSC sepanjang 2025. Pengalaman menghadapi sistem kualifikasi yang ketat, termasuk standar Olimpiade, menjadi modal penting bagi mentalitas bertanding tim di Tiongkok. (Ant/Z-1)





