PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman eskalasi militer yang sangat keras terhadap Iran. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Senin waktu setempat, Trump menyatakan kesiapannya untuk menghancurkan jembatan hingga pembangkit listrik di seluruh Iran jika negara tersebut gagal memenuhi tuntutannya.
Trump menegaskan operasi militer skala besar bisa terjadi kapan saja. "Seluruh negara bisa musnah dalam satu malam, dan malam itu mungkin saja besok malam," ujar Trump di hadapan awak media.
Ultimatum Empat Jam dan Kendali MinyakAncaman ini muncul menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Trump, yakni Selasa pukul 20.00 waktu setempat. Ia menuntut Teheran menyepakati perjanjian yang menjamin "lalu lintas minyak bebas" di Selat Hormuz, jalur krusial bagi seperlima pasokan minyak mentah global.
Baca juga : Donald Trump Beri Peringatan Keras ke Iran soal Ranjau di Selat Hormuz
Jika kesepakatan gagal, Trump mengancam akan melakukan penghancuran total dalam waktu singkat.
"Setiap jembatan di Iran akan hancur besok malam jam 12, di mana setiap pembangkit listrik di Iran akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi," tegasnya.
Selain ancaman fisik, Trump juga mempertimbangkan rencana untuk memungut biaya tol bagi kapal minyak yang melintasi Selat Hormuz, sebuah langkah yang ironisnya serupa dengan ancaman yang pernah dilontarkan pihak Iran sebelumnya.
Baca juga : Trump Ancam Ratakan Infrastruktur Vital Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka
Klaim Sukses Operasi Penyelamatan PilotDi tengah retorika perang, Trump memuji keberhasilan operasi militer berisiko tinggi yang menyelamatkan dua awak pesawat F-15 yang jatuh di wilayah musuh. Ia mengibaratkan misi tersebut seperti mencari "jarum di tumpukan jerami" dan membandingkannya dengan adegan film.
Menurut Trump, operasi tersebut melibatkan lebih dari 170 pesawat militer AS. Meski sukses, dua pesawat angkut sempat terjebak di pasir dan harus diledakkan untuk menghindari penyitaan oleh musuh. Direktur CIA, John Ratcliffe, menambahkan bahwa pihaknya melakukan operasi "pengecohan" untuk mengelabui pasukan Iran yang juga mencari kedua penerbang tersebut.
Menepis Tuduhan Kejahatan PerangTaktik mengincar infrastruktur sipil seperti pembangkit energi sering dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional. Namun, Trump dengan tegas menepis kekhawatiran tersebut.
"Saya tidak mengkhawatirkannya," kata Trump saat ditanya soal potensi kejahatan perang. "Anda tahu apa kejahatan perang yang sebenarnya? Kejahatan perang adalah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir."
Ia juga menyebut para pemimpin Iran sebagai "binatang" yang telah membunuh puluhan ribu demonstran. Meskipun jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak menyetujui perang ini, Trump tetap pada posisi kerasnya, bahkan menyebut mereka yang menentang perang terhadap Iran sebagai orang-orang yang "bodoh".
Hingga saat ini, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah menolak proposal gencatan senjata yang mereka labeli sebagai "proposal Amerika." Konflik yang telah berlangsung selama 38 hari ini terus memanas pasca serangan balasan rudal dan drone Iran ke berbagai target di Timur Tengah. (AFP/Z-2)





