Harga minyak dunia naik dalam perdagangan yang fluktuatif pada Senin (6/4/2026), seiring Amerika Serikat (AS) dan Iran saling meningkatkan retorika.
IDXChannel - Harga minyak dunia naik dalam perdagangan yang fluktuatif pada Senin (6/4/2026), seiring Amerika Serikat (AS) dan Iran saling meningkatkan retorika meski kedua negara tengah menjalani pembicaraan tidak langsung yang berpotensi meredakan ketegangan.
Minyak mentah Brent ditutup di level USD109,77 per barel, naik 0,68 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup di USD112,40 per barel, menguat 0,78 persen.
Agar harga minyak turun ke level yang lebih wajar, penghentian serangan perlu disertai kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Konsumen utama minyak, terutama di Asia, mulai menghemat penggunaan atau mengurangi konsumsi akibat penutupan selat tersebut.
Mengutip Reuters, AS dan Iran menerima kerangka kesepakatan dari Pakistan untuk mengakhiri konflik, namun Iran menolak membuka Selat Hormuz secara langsung setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menghantam negara itu dengan “neraka” jika tidak mencapai kesepakatan hingga akhir Selasa.
Selat Hormuz yang menyalurkan minyak dan produk petroleum dari Irak, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab masih sebagian besar tertutup akibat serangan Iran terhadap kapal-kapal sejak konflik AS-Israel dimulai pada 28 Februari.
Meski demikian, sejumlah kapal, termasuk tanker yang dioperasikan Oman, kapal kontainer milik Prancis, dan kapal pengangkut gas milik Jepang, telah melintas sejak Kamis, berdasarkan data pelayaran. Hal ini mencerminkan kebijakan Iran yang masih mengizinkan kapal dari negara yang dianggap bersahabat untuk melintas.
Analis SEB Research Ole Hvalbye mengatakan pasar masih mencoba memahami arah situasi ke depan.
“Pasar sedang mencoba memahami apa yang akan terjadi ke depan. Berita terpenting akhir pekan ini adalah adanya beberapa kapal yang berhasil melintas di selat,” ujar Hvalbye.
Ia juga menyoroti bahwa Eropa terus kehilangan pasokan fisik minyak dan produk energi ke Asia akibat pasar yang semakin ketat.
Iran menyatakan telah merumuskan posisi dan tuntutannya sebagai respons terhadap proposal gencatan senjata yang disampaikan melalui perantara.
Partner Again Capital John Kilduff mengatakan situasi masih sangat dinamis.
“Situasinya sangat cair dengan berbagai rencana perdamaian yang terus bermunculan. Retorika dari Iran tampaknya menolak proposal gencatan senjata, tetapi mereka tetap mengizinkan lebih banyak kapal melintas di Selat Hormuz,” kata Kilduff.
Pergerakan harga pada Senin terjadi setelah lonjakan tajam pada perdagangan sebelumnya, di mana WTI melonjak 11 persen dan Brent naik 8 persen pada Kamis, menjadi kenaikan harga terbesar sejak 2020.
Gangguan pasokan dari Timur Tengah mendorong kilang mencari sumber minyak alternatif, terutama kargo fisik dari AS dan Laut Utara Inggris. Premi spot minyak WTI AS bahkan melonjak ke rekor tertinggi akibat persaingan antara kilang di Asia dan Eropa.
Kilang di India juga menunda jadwal perawatan fasilitas untuk menjaga pasokan bahan bakar domestik tetap terjaga.
Kelompok OPEC+, yang terdiri dari anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya seperti Rusia, sepakat menaikkan produksi secara moderat sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei.
“Pergerakan OPEC tampaknya akan menghadapi tantangan berdasarkan ketersediaan ekspor,” ujar Janiv Shah.
Arab Saudi juga menetapkan harga jual resmi minyak Arab Light untuk Asia pada Mei dengan premi rekor USD19,50 per barel di atas rata-rata Oman/Dubai, naik USD17 dibandingkan bulan sebelumnya, menurut Aramco.
Pasokan Rusia turut terganggu akibat serangan drone Ukraina terhadap terminal ekspor di Laut Baltik. Terminal Ust-Luga dilaporkan kembali beroperasi pada Sabtu setelah beberapa hari mengalami gangguan.
Sementara itu, ekspor dari pelabuhan Tuapse di Laut Hitam diperkirakan naik menjadi 794.000 metrik ton pada April, meningkat 8,7 persen secara harian dibandingkan rencana Maret sebesar 755.000 metrik ton, menurut dua trader dan perhitungan Reuters. (Aldo Fernando)





