HARIAN FAJAR – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk tidak mengejar gencatan senjata dengan Iran. Seruan ini muncul di tengah ketegangan yang terus meningkat antara AS, Israel, dan Iran, serta serangkaian serangan militer yang telah menimbulkan korban jiwa besar. Apa alasannya?
Sejak serangan gabungan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari, konflik telah menyebabkan sedikitnya 1.340 korban jiwa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Iran membalas dengan meluncurkan serangan menggunakan pesawat tak berawak dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi basis aset militer AS.
Netanyahu mengungkapkan kekhawatirannya dalam percakapan telepon dengan Trump pada Minggu, 5 April, bahwa gencatan senjata dengan Iran berpotensi membawa risiko strategis yang besar. “Gencatan senjata dengan Iran dapat membawa risiko strategis yang serius,” katanya kepada Axios melalui seorang pejabat Israel.
Dialog Trump dan Netanyahu tentang Syarat Gencatan SenjataDi sisi lain, Presiden Trump menanggapi bahwa gencatan senjata hanya mungkin terjadi jika Iran memenuhi tuntutan AS. Ia menegaskan bahwa persyaratan utama adalah Iran menyerahkan semua uranium yang telah diperkaya dan berkomitmen untuk menghentikan pengayaan uranium secara permanen.
Lebih lanjut, Netanyahu memuji Trump atas operasi penyelamatan heroik seorang anggota awak pesawat AS yang baru-baru ini dilakukan. “Trump memuji Israel sebagai sekutu yang teguh, bertekad, dan kuat,” jelasnya, menambahkan bahwa kedua negara terus bekerja sama untuk menghancurkan rezim teror Iran.
Trump juga menyampaikan apresiasi atas bantuan Israel dalam operasi tersebut, menegaskan hubungan erat dan kolaborasi strategis antara kedua negara dalam menghadapi ancaman Iran.





