Masalah pencernaan pada anak sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa jauh lebih besar dari yang dibayangkan. Diare, konstipasi, kolik, atau tangisan yang tak kunjung reda, ternyata bukan hanya membuat anak tidak nyaman, tetapi juga bisa memicu stres pada orang tua.
Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK., FRSPH, menyebutkan bahwa gangguan saluran cerna pada anak dapat meningkatkan kecemasan orang tua, terutama ibu.
“Baik itu diare, konstipasi, itu bisa bikin orang tua stres dua kali lipat. Stres dalam arti apa? Cemas. Bahkan ada beberapa kasus, ada beberapa penelitian itu bahkan sampai depresi,” kata dr. Ray dalam acara diskusi media Monitor Kesehatan Pencernaan Anak dengan AI Poop Tracker di Jakarta Pusat, Kamis (2/4).
Gangguan Cerna Anak Juga Pengaruhi Mental Orang TuaSaat anak mulai diare, sulit BAB, kolik, atau terus menangis, respons orang tua sering kali menjadi berlebihan karena khawatir kondisi anak akan memburuk. Kekhawatiran ini biasanya lebih dulu dirasakan ibu, tetapi pada akhirnya bisa memengaruhi seluruh suasana di rumah.
“Dan kalau ibu sudah stres, apakah ibu ikhlas membiarkan bapaknya santai-santai saja? Tentu tidak. Kalau ibu sudah stres, bapaknya bakal gimana? Stres nggak? Pasti akan stres,” ujarnya.
Gangguan cerna fungsional seperti kolik, regurgitasi, dan konstipasi memang umum terjadi pada bayi dan anak, tetapi gejalanya sering membuat orang tua cemas dan memicu konsultasi berulang. Selain itu, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup keluarga dan meningkatkan beban emosional orang tua.
Orang Tua Perlu Ditenangkan DuluMenurut dr. Ray, salah satu hal terpenting saat anak mengalami gangguan pencernaan adalah parental reassurance, yaitu upaya menenangkan dan meyakinkan orang tua agar tidak langsung panik.
“Makanya UKK Gastro IDAI, udah bilang bahwa nomor satu penanganan pada anak yang punya masalah saluran pencernaan adalah parental reassurance,” imbuhnya.
Orang tua perlu diyakinkan terlebih dahulu bahwa banyak gangguan pencernaan pada anak sebenarnya sering terjadi dan tidak selalu berbahaya, asalkan tetap dipantau dengan baik.
“Yakini dulu bahwa ini adalah gangguan pencernaan yang sering terjadi, yang wajar, yang mungkin butuh asupan serat,” tutup dr. Ray.





