Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini. Pelaku pasar dinilai masih cenderung berhati-hati di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait perang di Iran.
Pada awal perdagangan, IHSG naik 0,17 persen ke level 7.001 dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di 6.989,43. Namun, berdasarkan data perdagangan terbaru pukul 11.30 WIB, IHSG melemah 0,45 persen ke level 6.959.
Pengamat Pasar Modal, Desmond Wira, mengatakan investor saat ini berada dalam posisi wait and see terhadap perkembangan perang Iran-Israel bersama AS.
"Pasar global termasuk IHSG memang sedang menunggu perkembangan dari pernyataan Trump soal perang Iran, karena dampak langsungnya ke harga minyak dan sentimen risiko dunia," jelas Desmond kepada kumparan, Selasa (7/4).
Menurut Desmond, pasar sangat sensitif terhadap perkembangan di Selat Hormuz karena jalur tersebut mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Desmond menilai pernyataan Trump menjadi penting karena dampaknya akan langsung terasa terhadap harga minyak dan inflasi.
"Pernyataan Trump penting banget buat pasar karena minyak & inflasi yaitu ancaman serangan infrastruktur Iran bisa bikin harga Brent/WTI naik tajam. Indonesia sebagai net importir minyak akan kena dampak biaya energi naik, rupiah melemah, dan inflasi," jelas Desmond.
Selain konflik Timur Tengah, pelaku pasar juga menanti hasil tinjauan FTSE Russell terhadap status pasar modal Indonesia pada hari ini, 7 April 2026.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan investor saat ini masih menunggu arah konflik AS-Iran sekaligus keputusan FTSE.
"Para pelaku investor masih bersikap wait and see antara potensi de-eskalasi konflik AS-Iran atau malahan terjadi eskalasi konflik AS-Iran lebih lanjut," kata Nafan.
Nafan melanjutkan, hasil tinjauan FTSE bakal menjadi faktor penting bagi arus modal asing di pasar domestik. Menurutnya, jika tidak terjadi downgrade, maka potensi outflow bisa terhindari.
"Yang akan menentukan apakah posisi pasar modal Indonesia tetap berada di kategori emerging market atau mengalami downgrade menjadi frontier market," ungkap dia.
Potensi penurunan status pasar modal Indonesia menjadi frontier market dinilai bisa memicu turunnya bobot Indonesia di indeks global lainnya seperti MSCI.
Di tengah kondisi tersebut, investor disarankan tetap disiplin menerapkan manajemen risiko dan tidak terburu-buru mengambil keputusan investasi.
Nafan menyarankan investor fokus pada saham dengan fundamental solid, valuasi murah, dan saham yang menunjukkan potensi pembalikan arah, sambil tetap disiplin menerapkan manajemen risiko.





