EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam wawancara telepon dengan Fox News pada akhir pekan menyatakan bahwa saat gelombang protes anti-pemerintah terjadi di Iran pada Januari tahun ini, Amerika Serikat pernah mencoba memberikan senjata kepada para demonstran, dengan pengiriman dilakukan melalui pihak Kurdi.
Namun, menurut Trump, senjata tersebut kemungkinan besar tidak sampai ke tangan para demonstran karena akhirnya disimpan oleh pihak Kurdi sendiri. Protes tersebut pada akhirnya ditekan oleh pasukan keamanan Iran.
Trump juga kembali menyatakan bahwa tindakan penindasan oleh rezim Iran telah menyebabkan sekitar 45.000 warga sipil tewas.
Penindasan Terhadap Oposisi Terus BerlanjutDi saat yang sama, rezim Iran masih terus menekan pihak oposisi meskipun sedang terlibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut informasi dari kelompok oposisi Iran, pada 4 April, Iran mengeksekusi dua pria dengan tuduhan terkait dengan People’s Mojahedin Organization of Iran (Organisasi Mujahidin Rakyat Iran), yang telah dilarang oleh pemerintah.
Kelompok tersebut dalam pernyataannya menyebutkan bahwa:
- Pada 30 dan 31 Maret, Iran telah mengeksekusi 4 orang
- Ditambah 2 orang pada 4 April
- Total 6 orang dieksekusi dalam waktu satu minggu
Mereka juga menyatakan bahwa sebelum dieksekusi, para tahanan telah mengalami penyiksaan fisik dan mental selama berbulan-bulan.
Tujuan Eksekusi: Menekan OposisiPada 5 April, organisasi tersebut kembali menyatakan bahwa eksekusi yang disetujui negara ini bertujuan untuk:
- Menghancurkan kekuatan oposisi secara fisik
- Menimbulkan ketakutan di masyarakat
- Memaksa masyarakat untuk tunduk
Namun, mereka menilai tindakan tersebut justru dapat menimbulkan efek sebaliknya.
Laporan HAM: Ratusan Eksekusi dalam 3 BulanSementara itu, laporan dari Hengaw Organization for Human Rights pada 31 Maret menyebutkan bahwa rezim Iran telah mengeksekusi sedikitnya 160 tahanan dalam tiga bulan pertama tahun 2026.
Sumber : NTDTV.com





