Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengeklaim ibu kota kini menjadi role model praktik toleransi dalam pendidikan Pancasila.
Hal itu disampaikan Pramono dalam sambutannya di acara Sosialisasi Pembelajaran Pendidikan Pancasila bersama Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (7/4).
Pram, sapaan akrabnya, menyampaikan, praktik yang sebelumnya dianggap tidak mungkin, kini bisa dilakukan.
“Praktik-praktik yang dulu dianggap tidak mungkin, sekarang menjadi sangat mungkin,” Kata Pram di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (7/4).
Pram mencontohkan sejumlah perayaan yang sukses digelar di ruang publik Jakarta. Mulai dari Jakarta Christmas Carol 2025 di kawasan Sudirman–Thamrin yang diikuti sekitar 1.500 hingga 2.000 orang, hingga perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2026 di kawasan Glodok Pecinan.
Menurut Pramono, seluruh rangkaian acara tersebut disambut positif masyarakat dan menjadi simbol kuat keberagaman di Jakarta.
“Semua orang bahagia dan happy,” ujarnya.
Tak hanya itu, Pemprov DKI juga menggelar pawai ogoh-ogoh dalam rangka Hari Nyepi 2026 di Bundaran HI, Jakarta Pusat. Ia menyebut sebelumnya hal tersebut tidak pernah terjadi di Jakarta.
“Tidak pernah ada ogoh-ogoh, tidak pernah ada penjor di Bundaran HI. Sekarang semua berjalan dengan baik,” kata Pram.
Memasuki Ramadan dan Idulfitri, Pemprov DKI juga menggelar berbagai kegiatan seperti Eid Mubarak Jakarta 2026 dan Harmoni Ramadan Jakarta 2026 yang turut disambut antusias warga.
Pramono menegaskan, rangkaian perayaan lintas agama tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Keberagaman sudah bukan lagi menjadi isu. Semua orang merasa Jakarta ini milik bersama,” ujarnya.





