PT Pupuk Indonesia (Persero) akan membangun dua pabrik metanol. Hal ini merupakan langkah untuk mendukung transisi energi menuju B50.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi menuturkan hal ini juga menjadi arahan saat rapat hilirisasi bersama Kementerian Pertanian. Nantinya, dua pabrik tersebut akan digunakan untuk proses konversi CPO sebagai bahan baku B50 menjadi biofuel.
“Tadi disampaikan juga oleh Pak Mentan terkait dengan transisi energi. Pada rapat hilirisasi yang dipimpin oleh Mentan di kantor Kementan beberapa waktu yang lalu, kami ditugaskan untuk mendukung transisi menuju B50. Di mana B50 itu membutuhkan dua pabrik metanol supaya bisa mengonversi dari CPO menjadi biofuel,” kata Rahmad dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Gedung Parlemen, Selasa (7/4).
Ia menjelaskan bahwa saat ini impor metanol Indonesia ada pada kisaran 1,5 juta ton. Jika kedua pabrik tersebut tidak dibangun, impor juga berpotensi meningkat hingga ada pada kisaran 2,5 juta ton. Maka dari itu, keberadaan dua pabrik tersebut dinilai penting.
“Tanpa pembangunan ini kita akan meningkat impornya menjadi 2,5. Alhamdulillah dua pabrik yang sudah ditugaskan oleh kami dari Kementan dan juga sudah disetujui oleh Danantara,” ujarnya.
Nantinya, pabrik pertama akan dibangun satu di Lhokseumawe, Aceh. Sementara pabrik kedua akan dibangun di Bontang, Kalimantan Timur.
“Yang di lokasi sudah ada, pelabuhan sudah ada, visibility pre-feasibility-nya sudah selesai. Untuk gas dengan Mubadala sudah MoU, kemudian dengan Kaltim sedang berproses,” kata Rahmad.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk mempercepat implementasi biodiesel berbasis sawit hingga campuran 50 persen (B50) pada tahun ini. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.
Dalam forum bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo, Prabowo menyatakan pemerintah akan meningkatkan pemanfaatan biofuel secara signifikan, khususnya untuk sektor solar.
Tahun ini kita akan memproduksi solar dari minyak sawit, sekaligus meningkatkan campurannya dari 40 persen menjadi 50 persen," kata Prabowo.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Indonesia mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi di tengah dinamika geopolitik global.
Senada dengan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut implementasi B50 juga diarahkan untuk menghentikan impor solar secara bertahap mulai tahun ini.





