Pemerintah melalui Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengizinkan kenaikan harga tiket pesawat domestik sebesar 9-13 persen. Kebijakan ini merupakan respons atas lonjakan harga avtur global, yang berkontribusi signifikan hingga 40 persen terhadap biaya operasional maskapai.
Fuel surcharge yang dikenakan maskapai telah disesuaikan dari 10 persen menjadi 38 persen, yang berlaku untuk pesawat jet maupun propeller.
Kenaikan harga avtur di pasar internasional, dipicu oleh konflik geopolitik, menyebabkan harga di beberapa negara mencapai level tinggi; contohnya di Thailand Rp 29.518 per liter, Filipina Rp 25.326 per liter, dan Indonesia Rp 23.551 per liter.
Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI), sekaligus pengamat penerbangan, Alvin Lie, mengatakan kenaikan harga tiket pesawat sangat dipengaruhi oleh harga avtur.
“Kenaikan ini sangat berpengaruh, karena avtur menyumbang sekitar 30-40 persen dari total biaya operasional maskapai,” ujar Alvin, saat dihubungi kumparan, Selasa (7/4).
Ia menilai, kebijakan tersebut merupakan bentuk pembagian beban antara pemerintah, maskapai, dan konsumen.
“Kalau enak ditanggung bersama, tidak enak juga harus ditanggung bersama. Ini bukan untuk menambah keuntungan maskapai, tapi agar mereka bisa bertahan,” katanya.
Selain itu, Alvin juga mengapresiasi kebijakan baru yang menghapus perbedaan fuel surcharge antara pesawat jet dan propeller. Sebelumnya, pesawat propeller yang banyak melayani wilayah Indonesia timur dikenakan biaya lebih tinggi.
“Sekarang sudah disamaratakan, sehingga biaya perjalanan ke daerah-daerah kecil tidak lagi terlalu mahal, bahkan bisa sedikit lebih murah,” ujarnya.
Penurunan Jumlah PenumpangMeski demikian, Alvin memprediksi jumlah penumpang akan tetap mengalami penurunan, terutama setelah periode Lebaran. Secara siklus, penurunan bisa mencapai sekitar 20 persen, dan kenaikan harga tiket diperkirakan akan memperkuat tren tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat kemungkinan akan lebih selektif dalam bepergian.
“Perjalanan yang tidak terlalu penting mungkin akan dikurangi, karena biaya hidup secara keseluruhan juga meningkat,” katanya.
Untuk menyiasati kenaikan harga tiket, Alvin menyarankan masyarakat mempertimbangkan maskapai berbiaya rendah (LCC), memilih jadwal penerbangan di luar jam sibuk, serta membeli tiket jauh-jauh hari.
Di sisi lain, ia menilai evaluasi kebijakan sebaiknya dilakukan lebih sering.
“Saat ini ditinjau setiap dua bulan, tapi sebaiknya bisa setiap bulan, karena harga minyak sangat fluktuatif,” pungkasnya.





