Sepak bola dan musik rock mungkin terdengar seperti dua dunia yang bertolak belakang. Namun, siapa sangka jika pelatih tim nasional yang satu ini pernah menekuni dua dunia tersebut secara bersamaan?
Namanya Mihoko Ishida. Ia, yang baru saja ditunjuk menjadi pelatih baru Timnas Wanita Singapura, ternyata sempat menekuni dua dunia berbeda. Di samping kariernya sebagai pelatih sepak bola, ia merupakan bintang band rock di negara asalnya, Jepang!
Jika ditarik jauh ke belakang, sebelum menjadi pelatih The Lionesses, Ishida terlebih dahulu terjun sebagai pemain sepak bola, yakni sejak berusia lima tahun.
Ia bermain bersama tim laki-laki hingga usianya menginjak enam tahun. Setelah itu, wanita kelahiran Prefektur Kanagawa, Jepang, 19 Juni 1982 tersebut bermain untuk Nippon TV Menina dan Musashigaoka College.
Puncaknya terjadi pada 2003, ketika Ishida menjadi bagian dari skuad Arsenal Women. Saat itu, klub asal London Utara itu sedang berada di masa kejayaan dan diperkuat banyak pemain top.
Ishida sendiri datang ke Inggris lewat jalur yang terbilang tak biasa. Awalnya, ia bermain untuk Musashigaoka College di Jepang yang punya kerja sama dengan Arsenal. Lalu, Ishida pun mendapat kesempatan trial bersama The Gunners saat tur ke Inggris.
Meski hanya bermain satu pertandingan, penampilan Ishida kala itu membuat Arsenal yakin untuk memboyongnya. Tawaran bergabung pun datang, meski ia harus menjalani semuanya dengan visa pelajar dan tanpa bayaran.
“Saya pikir itu bercanda. Saya benar-benar tidak percaya,” ucap Ishida, dikutip dari The Athletic pada 28 Oktober 2020 lalu.
Tak Bisa Bahasa Inggris, Muntah Sebelum LatihanBisa bergabung dengan salah satu tim sepak bola wanita papan atas Inggris membuat Ishida nervous bukan kepalang. Di hari pertamanya di Arsenal, wanita yang kini berusia 43 tahun itu mengaku sangat gugup hingga mengalami sakit perut dan muntah sebelum latihan.
Belum lagi, Ishida harus mengalami kendala bahasa. Saat itu, ia belum bisa berbahasa Inggris, sehingga komunikasi dengan pelatih dan rekan setim nyaris tidak ada.
Namun, situasi tersebut perlahan berubah. Dalam beberapa minggu, Ishida mulai belajar bahasa Inggris dan ia pun bisa beradaptasi dengan tim.
Di dalam lapangan, Ishida dikenal sebagai striker yang cepat dan punya teknik bagus. Ia bahkan menjadi bagian dari tim yang menjuarai Liga Inggris Wanita dan FA Cup pada dekade 2000-an.
Sementara di luar lapangan, pengalamannya selama di Inggris justru membuka jalan bagi Ishida untuk masuk ke “dunia lain”. Budaya sepak bola yang dekat dengan musik membuat Ishida mulai melihat dua hal tersebut sekaligus.
“Di Inggris, habis pertandingan, orang-orang ke pub, nyanyi, dan menikmati musik. Itu hal yang biasa,” ujar Ishida.
Ishida sendiri sudah punya ketertarikan di dunia musik sejak remaja. Ia terinspirasi oleh Bon Jovi. Ia menulis lagu, bermain gitar, dan bahkan sempat menjadi vokalis band saat masih duduk di bangku sekolah.
Pada saat itu, ia sempat berpikir bahwa dirinya harus memilih satu jalan. Di pikirannya, fokus di sepak bola berarti meninggalkan musik, begitu pula sebaliknya.
Namun, pandangan itu seketika berubah setelah ia tinggal di Inggris. Dukungan dari rekan setimnya di The Gunners dan lingkungan sekitar membuatnya sadar bahwa dua hal yang beda dunia itu bisa dijalani secara beriringan.
“Itu jadi titik balik buat saya,” kata Ishida.
Balik ke Jepang dan Terjun ke Dunia MusikSetelah menyelesaikan kariernya bersama Arsenal, pada 2006, Ishida memutuskan kembali ke Jepang dan bergabung dengan JEF United Ichihara Chiba Ladies di Liga Nadeshiko.
Di samping itu, ia juga mulai mendalami dunia musik. Ia mulai tampil di berbagai panggung kecil, rekaman, hingga merilis beberapa karya.
Memang dasarnya pesepak bola, tema seputar si kulit bundar itu tetap terasa dalam lagu-lagunya. Ia banyak mengangkat tema soal kebersamaan tim, kemenangan, hingga kekalahan.
Ishida resmi debut sebagai penyanyi dengan sebuah lagu yang menjadi theme song Kejuaraan Sepak Bola Wanita Antar Universitas Jepang. Ia kemudian merilis single kedua berjudul “one for ALL” pada 22 Oktober 2008. Isinya tentang ungkapan terima kasih kepada rekan-rekannya.
“Main band itu mirip sepak bola. Harus kompak,” ucap Ishida, masih dikutip dari The Athletic.
Pada 2009, Ishida memutuskan pensiun dari sepak bola dan memilih fokus pada karier bermusiknya.
Meski sudah gantung sepatu, hubungan Ishida dengan mantan rekan setimnya masih terjaga. Saat itu, tepatnya pada 2011, Arsenal datang ke Jepang dalam rangka kegiatan amal pascagempa dan tsunami Tohoku.
Ishida mengundang mantan timnya itu ke sebuah konser kecil. Ia ingin menghadirkan suasana santai bagi mereka yang datang jauh-jauh dari Inggris.
Momen itu masih lekat dalam ingatan Ishida, bahkan bagi para pemain Arsenal sendiri. Salah satunya adalah Jayne Ludlow yang ikut naik ke atas panggung dan bernyanyi bersama Ishida.
“Itu adalah salah satu pengalaman terbaik dalam hidup saya,” kata Ludlow.
Comeback ke Lapangan HijauSayangnya, karier musik Ishida tidak terlalu berkembang. Ia pun memutuskan kembali ke lapangan hijau. Bukan sebagai pemain, melainkan pelatih.
Pada 2019 hingga 2021, Ishida sempat menjadi asisten pelatih di Sfida Setagaya FC dan menjadi juara Liga Nadeshiko Divisi Dua. Setelah itu, pada 2022, ia dipercaya menjadi asisten pelatih dan pelatih kepala di Nippatsu Yokohama FC Seagulls hingga 2025.
Kini, Ishida sudah resmi menjadi bagian dari Timnas Wanita Singapura. Federasi Sepak Bola Singapura (FAS) menunjuknya sebagai pelatih kepala pada Minggu (5/4).
Bersama The Lionesses, Ishida berharap bisa menemukan tantangan baru dan menghadapinya sebagai sebuah grup yang erat. “Ini bukan proyek yang sudah selesai. Ada yang menarik dalam membangun sesuatu dari bawah,” ujarnya.
Ishida akan bersama Singapura dalam dua tahun ke depan. Pada periode tersebut, FAS berharap Ishida bisa membuat Timnas Wanita Singapura bertarung di level Asia meski punya pemain dengan fisik kecil; sama seperti Jepang yang bisa dominan di Asia.





