REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga tiket pesawat yang semakin mahal akibat lonjakan harga avtur membuat biaya liburan membengkak. Kondisi ini menuntut para pelancong lebih cermat mengatur anggaran dan prioritas pengeluaran.
Namun, apa risiko jika tetap memaksakan liburan meski budgetnya tak cukup?
- Harga Avtur Naik, AirAsia Indonesia Pilih Optimalkan Rute Favorit
- Harga Avtur Naik 30 Persen, Ini Respons Asosiasi Maskapai Penerbangan
- Harga Avtur Melonjak, Pemerintah Naikkan Fuel Surcharge Pesawat
Perencana keuangan sekaligus pendiri Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno, mengungkapkan liburan yang dipaksakan bisa berpengaruh pada kondisi finansial seseorang. Kondisi ini bahkan bisa mendorong seseorang untuk berutang tanpa perhitungan.
"Kalau dipaksakan, akhirnya kita mengeluarkan uang yang sebenarnya tidak kita punya. Dampaknya apa? bisa jadi terpaksa berutang. Ini tentu sangat tidak bijak karena utang itu tentu harus dibayar," kata Mike saat dihubungi Republika, Selasa (7/4/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}Selain itu, memaksakan liburan juga berpotensi mengorbankan kebutuhan yang lebih penting. Misalnya, menunda pembayaran cicilan, mengurangi tabungan dan investasi, hingga memangkas anggaran kebutuhan sehari-hari seperti belanja dapur atau biaya transportasi kerja.
"Liburan memang penting sebagai sarana istirahat dan quality time dengan diri sendiri atau keluarga. Tapi yang perlu dicatat adalah liburan itu bukan kebutuhan primer, tapi kebutuhan yang sifatnya bisa ditunda, tidak perlu dipaksakan," kata Mike.
la mengingatkan bahwa kebiasaan berutang untuk liburan bisa berdampak lebih serius terhadap kesehatan keuangan, terutama jika tidak diimbangi dengan kemampuan membayar.
Sebagai solusi, Mike menyarankan agar masyarakat menyesuaikan rencana liburan dengan kondisi keuangan yang ada. Jika anggaran belum mencukupi, liburan sebaiknya ditunda atau frekuensinya dikurangi.
"Liburan itu sebaiknya dilakukan dengan ang yang sudah tersedia sekarang, bukan dari uang yang belum pasti ada di masa depan," kata dia.
Lebih lanjut Mike juga menyoroti fenomena self-reward yang kerap menjadi alasan untuk berlibur di tengah keterbatasan anggaran. la menjelaskan bahwa self-reward yang sehat tidak selalu identik dengan traveling, belanja, atau mengeluarkan uang.
Menurut Mike, hal sederhana seperti bersyukur, menikmati waktu sendiri dengan membaca, atau melakukan aktivitas tanpa biaya juga bisa menjadi cara menghargai diri sendiri.
"Pilihan lain adalah kita me-reward dengan cara menghadiahi dengan hal-hal kecil seperti menikmati kopi di cafe, belanja atau berlibur yang sesuai kemampuan. Itu mungkin self reward yang sehat," kata Mike.
Sebaliknya, self-reward yang impulsif umumnya dilakukan tanpa perencanaan dan dipengaruhi oleh kebiasaan ikut-ikutan (FOMO). Mike mengingatkan agar masyarakat tidak menyamakan standar kepuasan diri dengan orang lain.
"Kalau dalam konteks liburan, mungkin kalau tiket pesawat sedang mahal dan tidak ada budget, Anda bisa memilih liburan di dalam kota saja. Saya kira ada banyak pilihan yang bisa Anda datangi sendiri, bersama teman, atau keluarga," kata Mike.




