Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung bersama Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, menggelar sosialisasi pembelajaran Pendidikan Pancasila di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (7/4).
Kegiatan ini diikuti oleh para kepala sekolah dan guru dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD hingga SMA/SMK, dengan tujuan memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Dalam sambutannya, Pramono menegaskan pentingnya pendekatan pembelajaran Pancasila yang tidak bersifat dogmatis, melainkan hidup dan relevan dengan kondisi kekinian.
“Saya sungguh berharap bahwa Pancasila itu hadir di dalam ruang diskusi yang hidup di kelas. Jangan bersifat dogmatis. Dengan mengaitkan proses pembelajaran para siswa dengan hal-hal up to date apa yang terjadi pada masyarakat saat ini,” ujar Pramono dalam sambutannya,
Ia juga menekankan, pembelajaran Pancasila harus dibuat menyenangkan dan bermakna, bukan sekadar hafalan.
“Jadikan proses pembelajaran ini yang menyenangkan dan bermakna. Jangan sekadar hanya menjadi hafalan,” lanjutnya.
Selain itu, Pramono menilai keberhasilan pendidikan Pancasila sangat bergantung pada sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial.
“Salah satu kekuatan yang utama kalau Pancasila ini akan menjadi kuat adalah apabila antara keluarga, masyarakat, dunia pendidikan, dan realitas hidup keseharian itu bisa digambarkan menjadi potret kita bersama,” katanya.
Sementara itu, Kepala BPIP Yudian Wahyudi menyampaikan, arah kebijakan pembelajaran Pancasila saat ini menitikberatkan pada praktik dibandingkan teori.
“Jadi 30 persen itu lebih katakan lah teoritis, 70 persen ke praktik lapangan,” ujar Yudian.
Menurutnya, pendekatan tersebut bertujuan agar peserta didik mampu menghayati dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Nah, dari situ nanti akan lahir anak didik atau yang akan menjadi tokoh-tokoh bangsa itu, bisa menghayati itu dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Yudian menambahkan, praktik pembelajaran ini akan didukung melalui penugasan langsung kepada siswa, seperti kegiatan berbasis lingkungan hingga literasi digital dalam menghadapi hoaks.
“Guru memberikan penugasan-penugasan untuk anak-anak didik kita ini mempraktikkan di lapangan. Ada yang terkait dengan lingkungan, ada yang terkait bagaimana melawan berita hoaks dan sebagainya,” tuturnya.





