Tokyo (ANTARA) - Kekhawatiran masyarakat Jepang meningkat terhadap besarnya subsidi bensin yang kembali diberlakukan pemerintah untuk menahan kenaikan harga di tengah konflik Timur Tengah.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama pada Selasa (7/4) mengatakan pemerintah belum memiliki perkiraan besaran subsidi tersebut.
"Pada tahap ini, kami belum membuat perkiraan berapa banyak (subsidi) yang dibutuhkan per bulan, karena volatilitas kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate sangat tinggi," kata Katayama kepada wartawan.
Kekhawatiran terhadap memburuknya kondisi fiskal meningkat di pasar keuangan setelah pemerintah Jepang pada 19 Maret memutuskan untuk melanjutkan subsidi. Harga bensin naik seiring lonjakan harga minyak sejak AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari.
Pemerintah Jepang awalnya menggunakan sekitar 280 miliar yen dari dana tertentu untuk menjaga harga bensin di kisaran 170 yen (Rp18.176) per liter. Namun, karena dana diperkirakan akan habis pada akhir April, ada tambahan sekitar 800 miliar yen (sekitar Rp86 triliun) dari cadangan fiskal 2025.
Analis menilai dana subsidi bisa habis dalam dua hingga tiga bulan jika harga minyak tetap tinggi, sehingga diperlukan rencana belanja tambahan.
Pemerintah Jepang belum menutup kemungkinan menggunakan hingga 1 triliun yen dari cadangan dalam anggaran fiskal 2026, meski dana itu dialokasikan untuk respons darurat, seperti bencana alam besar.
Subsidi bensin mencapai 49,8 yen (Rp5.325) per liter untuk pekan hingga Rabu (8/4), tertinggi sejak program diluncurkan pada Januari 2022, menurut Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang.
Kementerian tersebut menyesuaikan subsidi setiap pekan berdasarkan proyeksi harga eceran pekan berikutnya yang mencerminkan perubahan harga minyak mentah.
Berkat subsidi, harga eceran rata-rata bensin turun menjadi sekitar 170 yen per liter setelah sempat mencapai rekor 190,80 yen per liter pada 16 Maret.
Survei Kyodo News pada akhir pekan menunjukkan 69,6 persen responden ingin pemerintah terus memberikan subsidi untuk menekan harga bensin.
Sumber: Kyodo-OANA
Baca juga: PM Jepang gunakan jalur komunikasi langsung ke Iran soal Selat Hormuz
Baca juga: G7 akan gelar pertemuan untuk menekan harga minyak
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama pada Selasa (7/4) mengatakan pemerintah belum memiliki perkiraan besaran subsidi tersebut.
"Pada tahap ini, kami belum membuat perkiraan berapa banyak (subsidi) yang dibutuhkan per bulan, karena volatilitas kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate sangat tinggi," kata Katayama kepada wartawan.
Kekhawatiran terhadap memburuknya kondisi fiskal meningkat di pasar keuangan setelah pemerintah Jepang pada 19 Maret memutuskan untuk melanjutkan subsidi. Harga bensin naik seiring lonjakan harga minyak sejak AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari.
Pemerintah Jepang awalnya menggunakan sekitar 280 miliar yen dari dana tertentu untuk menjaga harga bensin di kisaran 170 yen (Rp18.176) per liter. Namun, karena dana diperkirakan akan habis pada akhir April, ada tambahan sekitar 800 miliar yen (sekitar Rp86 triliun) dari cadangan fiskal 2025.
Analis menilai dana subsidi bisa habis dalam dua hingga tiga bulan jika harga minyak tetap tinggi, sehingga diperlukan rencana belanja tambahan.
Pemerintah Jepang belum menutup kemungkinan menggunakan hingga 1 triliun yen dari cadangan dalam anggaran fiskal 2026, meski dana itu dialokasikan untuk respons darurat, seperti bencana alam besar.
Subsidi bensin mencapai 49,8 yen (Rp5.325) per liter untuk pekan hingga Rabu (8/4), tertinggi sejak program diluncurkan pada Januari 2022, menurut Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang.
Kementerian tersebut menyesuaikan subsidi setiap pekan berdasarkan proyeksi harga eceran pekan berikutnya yang mencerminkan perubahan harga minyak mentah.
Berkat subsidi, harga eceran rata-rata bensin turun menjadi sekitar 170 yen per liter setelah sempat mencapai rekor 190,80 yen per liter pada 16 Maret.
Survei Kyodo News pada akhir pekan menunjukkan 69,6 persen responden ingin pemerintah terus memberikan subsidi untuk menekan harga bensin.
Sumber: Kyodo-OANA
Baca juga: PM Jepang gunakan jalur komunikasi langsung ke Iran soal Selat Hormuz
Baca juga: G7 akan gelar pertemuan untuk menekan harga minyak





