Bisnis.com, JAKARTA — Risiko lonjakan inflasi pangan pada 2026 kian nyata seiring dengan risiko penurunan produksi beras imbas dari fenomena iklim El Nino berkepanjangan. Pada saat yang sama, tekanan biaya dari sisi pupuk dan rantai pasok global belum sepenuhnya mereda.
Tekanan tersebut tidak lagi bersifat sektoral, melainkan terakumulasi dari sisi produksi, distribusi, hingga biaya input. Kondisi ini membuka peluang kenaikan harga pangan yang lebih luas dan bertahan lebih lama.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengungkapkan gangguan produksi beras mulai terlihat sejak awal tahun. Kondisi ini dipicu oleh berkurangnya luas panen. Penurunan tersebut berdampak langsung pada total produksi padi nasional.
Risiko makin besar dengan potensi El Nino yang diperkirakan berlangsung dari Juli 2026 hingga Juli 2027. Fenomena ini memicu kekeringan panjang di sejumlah wilayah, sementara anomali cuaca juga menyebabkan curah hujan tinggi dan banjir di sentra produksi seperti Sumatera dan Aceh.
Selain itu, bencana alam seperti banjir dan tanah longsor turut merusak lahan pertanian. Perubahan iklim juga mendorong pergeseran masa tanam yang berujung pada keterlambatan panen dan penurunan produksi, terutama pada awal tahun.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada keseimbangan pasokan dan harga. Esther menilai El Nino berpotensi mendorong kenaikan harga beras melalui dua jalur sekaligus, yakni peningkatan biaya produksi dan penurunan pasokan.
Baca Juga
- BPOM Teken Rancangan Aturan Label Kandungan Gula, Garam & Lemak Produk Pangan
- Ujian Daya Tahan Pangan RI
- Alarm Harga Pangan Indonesia di Tengah Pusaran Disrupsi Rantai Pasok Global
Penyesuaian pola tanam serta kebutuhan irigasi tambahan meningkatkan biaya operasional petani, yang kemudian mendorong kenaikan harga gabah. Di sisi lain, kekeringan yang berkepanjangan mengurangi produksi sehingga pasokan beras di pasar menyusut.
Dengan pola tersebut, potensi penurunan pasokan beras diperkirakan dapat berlangsung hingga akhir 2026, seiring durasi El Nino yang panjang.
Merespons kondisi tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Program peningkatan areal tanam dan percepatan tanam digencarkan melalui gerakan kejar tanam dan penanganan dampak El Nino di berbagai provinsi.
Dari sisi infrastruktur, pembangunan bendungan dan rehabilitasi jaringan irigasi dilakukan untuk menjaga ketersediaan air. Pemerintah juga mengoptimalkan pompanisasi guna meningkatkan frekuensi tanam.
Intervensi hulu diperkuat melalui penyediaan benih tahan kekeringan serta peningkatan kuota pupuk bersubsidi menjadi 9,5 juta ton. Sementara itu, penguatan Cadangan Pangan Pemerintah dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan.
Di sisi hilir, distribusi bantuan pangan dan operasi pasar melalui Gerakan Pangan Murah diharapkan mampu menahan lonjakan harga di tingkat konsumen.
Namun, pelaku pasar melihat tekanan harga belum sepenuhnya terkendali. Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia Reynaldi Sarijowan menuturkan volatilitas harga pangan, khususnya cabai rawit merah, masih menjadi indikator rapuhnya stabilitas pasar.
“Mulai dari Rp80.000, puncaknya Rp90.000, Rp100.000, bahkan tertinggi sampai Rp120.000,” ujarnya.
Dia menyebut kondisi saat ini relatif tertolong oleh surplus beras, sehingga pasokan dan harga masih terkendali. Meski demikian, daya beli masyarakat dinilai masih lemah dan cenderung tertahan.
Tekanan lain datang dari faktor nonpangan yang memiliki efek rambatan ke harga kebutuhan pokok, seperti biaya distribusi dan energi. Kondisi tersebut mempersempit ruang stabilisasi harga di tingkat konsumen.
Di sisi lain, distribusi komoditas tertentu masih belum merata. Harga minyak goreng rakyat, misalnya, dinilai belum sepenuhnya stabil karena keterbatasan distribusi di luar pasar yang berada dalam pengawasan pemerintah.
Reynaldi juga menyoroti risiko dari sisi hulu, terutama potensi kenaikan harga pupuk. Kenaikan tersebut dinilai memiliki dampak langsung terhadap biaya produksi pertanian.
“Setiap hulu ketika ada gejolak entah itu kelangkaan bahan baku atau kenaikan harga bahan bakunya atau pupuknya ini akan berdampak secara langsung,” ujarnya.
Dari sisi industri, Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira memastikan ketersediaan pupuk nasional masih terjaga dengan kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton per tahun.
Namun, dia mengakui dinamika geopolitik di Timur Tengah memengaruhi harga pupuk global, terutama urea. Meski demikian, ketergantungan pada gas domestik membuat produksi urea dalam negeri relatif lebih stabil.
Untuk bahan baku lain yang masih impor, perusahaan telah melakukan diversifikasi pasokan dari berbagai negara di luar wilayah konflik. Selain itu, penguatan manajemen stok dan efisiensi produksi dilakukan untuk menjaga kelancaran pasokan.
Kombinasi risiko tersebut menunjukkan tekanan inflasi pangan pada 2026 berpotensi lebih persisten. Kenaikan harga tidak hanya dipicu oleh gangguan produksi akibat El Nino, tetapi juga oleh peningkatan biaya input dan distribusi.
Dalam kondisi ini, kenaikan harga pangan berpotensi terjadi secara bertahap dengan puncak yang bergantung pada kedalaman penurunan produksi dan efektivitas intervensi pemerintah dalam menjaga pasokan.
Jika gangguan produksi berlangsung panjang dan tekanan biaya terus meningkat, ruang kenaikan harga akan makin terbuka, terutama pada komoditas strategis seperti beras dan hortikultura.





