Baliho Film Aku Harus Mati Juga Dikritik Kemenkes

viva.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Film “Aku Harus Mati” tengah menjadi sorotan publik, bukan hanya karena temanya yang sensitif, tetapi juga materi promosinya yang terpampang di ruang publik. Baliho film tersebut menuai kontroversi karena dinilai terlalu provokatif dan berpotensi memicu dampak psikologis, khususnya bagi kelompok rentan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menegaskan bahwa polemik ini tidak bisa dianggap sepele. Scroll untuk informasi selengkapnya, yuk!

Baca Juga :
Ramai Dikecam! Psikiater Ikut Soroti Billboard Film Aku Harus Mati, Bisa Picu Bunuh Diri
Bahaya Buat Mental Anak, Ketua IDAI Kecam Billboard Film Aku Harus Mati: Saya Keberatan dengan Banner Sampah Ini!

“Film berjudul ‘Aku Harus Mati’ memicu kontroversi karena materi promosi publiknya (baliho) dinilai provokatif dan berpotensi memicu peniruan bunuh diri pada individu rentan; para pakar jiwa meminta penertiban materi dan penerapan pedoman peliputan/penyajian yang aman," ujar Imran dalam keterangannya, dikutip Selasa 7 April 2026. 

Menurutnya, cara media dan materi promosi menyampaikan pesan memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memahami isu kesehatan mental. Ia menyoroti bahwa penyajian yang tidak hati-hati bisa berdampak serius.

“Ketika tema bunuh diri dihadirkan tanpa kehati-hatian, dampaknya bisa menyentuh keselamatan publik," ungkapnya.

Ia menjelaskan, narasi yang menyederhanakan bunuh diri sebagai solusi atas penderitaan berpotensi menurunkan ketahanan individu yang sedang berada dalam kondisi rentan.

“Paparan berulang terhadap pesan yang meromantisasi atau menormalisasi tindakan tersebut dapat menjadi pemicu bagi individu dengan riwayat depresi, impulsivitas, atau pengalaman traumatis," tukasnya.

Karena itu, konteks dalam penyajian menjadi sangat penting. Ia menekankan bahwa pesan seharusnya tidak hanya dramatis, tetapi juga edukatif dan mengarah pada pencegahan.

“Apakah pesan itu menempatkan bunuh diri dalam kerangka kompleksitas masalah kesehatan jiwa dan pencegahan, atau justru menonjolkan unsur dramatis yang memuliakan tindakan," paparnya.

Kekhawatiran ini diperkuat oleh respons para profesional kesehatan jiwa yang mendorong penertiban materi promosi tersebut.

“Pilihan kata yang tampak sepele—menggambarkan bunuh diri sebagai ‘pilihan’ atau ‘pembebasan’—bisa ditangkap sebagai legitimasi oleh orang yang sedang putus asa," bebernya.

Sebaliknya, pendekatan yang lebih bertanggung jawab dinilai mampu mengurangi risiko.

“Penyajian yang menekankan adanya bantuan, menyoroti faktor penyebab yang kompleks, dan mengarahkan orang ke layanan dukungan dapat mengurangi risiko peniruan dan membantu mengubah narasi dari sensasi menjadi pencegahan," ujarnya.

Baca Juga :
Baliho Film 'Aku Harus Mati' Dinilai Punya Dampak Negatif, Pramono: Tak Boleh Terulang
Dinilai Menyeramkan dan Tak Ramah Anak, Banner-Video Iklan Film 'Aku Harus Mati' Dicopot
TERPOPULER: Film "Ayah Ini Arahnya Ke Mana, Ya?" Angkat Luka dalam Keluarga, Reza Arap Minta Netizen Stop Sebut Furap

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ikuti Arahan Pusat, ASN Bekasi Siap-siap WFH Setiap Jumat
• 10 jam laludisway.id
thumb
Isi Perkuliahan di UGM, Harwan Muldidarmawan Paparkan Soal Etika Bisnis
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
PSI: Balas Laporan JAKI Pakai Foto AI Rusak Kepercayaan Publik
• 16 jam laludetik.com
thumb
Penataan Masif Losari, Camat Ujung Pandang Libatkan RT/RW hingga Tim Gabungan
• 2 jam laluharianfajar
thumb
PTPP Raih Kontrak Baru Rp3,87 Triliun per Februari 2026
• 5 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.