Bisnis.com, SEMARANG — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur sipil di Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali pada tenggat waktu yang telah ditentukan, yakni pada hari Senin ini.
Dikutip dari situs resmi Aljazeera, Selasa (7/4/2026), unggahan Trump tersebut dipenuhi oleh kata-kata kasar, di mana Trump kembali mengulang ancaman sebelumnya yang menyebutkan bahwa dirinya akan menghancurkan infrastruktur vital di seluruh Iran.
“Selasa nanti akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semuanya dibungkus menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti ini!!! Buka Selat S*** itu, kalian para b***g* gila, atau kamu akan hidup di Neraka - LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah,” tulis Trump dalam postingan Truth Social, dikutip dari laman Aljazeera.
Sebelumnya, diketahui bahwa pada 26 Maret 2026 lalu Trump telah menetapkan tenggat waktu selama 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang menjadi jalur pelayaran utama bagi pasar energi global, di mana lalu lintas kapal telah terhenti sejak AS dan Israel melancarkan serangan pertama terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Menanggapi ancaman yang dilontarkan Trump, para pejabat Iran telah mengecam ancaman Trup dan berjanji untuk membalas setiap serangan terhadap infrastruktur mereka. “Sekali lagi, presiden AS secara terbuka mengancam akan menghancurkan infrastruktur yang sangat penting bagi kelangsungan hidup warga sipil di Iran,” ucap perwakilan Iran di PBB
Lebih lanjut, perwakilan Iran juga menyebut bahwa semua negara memiliki kewajiban untuk mencegah tindakan keji tersebut. “Komunitas internasional dan semua negara memiliki kewajiban hukum untuk mencegah tindakan keji berupa kejahatan perang semacam itu. Mereka harus bertindak sekarang. Besok sudah terlambat,” tambahnya.
Baca Juga
- Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Naik Tembus US$114 per Barel
- 3 Kapal Tanker Turki Berhasil Lewati Selat Hormuz dengan Selamat
Di sisi lain, wakil bidang komunikasi di kantor kepresidenan Iran, Seyyed Mehdi Tabatabaei, menuturkan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali setelah pembayaran ganti rugi atas kerusakan yang disebabkan oleh perang. Tabatabaei menyebut bahwa pembayaran tersebut akan dilakukan dalam bentuk biaya transit melalui “kerangka hukum baru” di sekitar selat tersebut.
Konsisten dengan pernyataan Iran sebelumnya bahwa mereka mungkin berusaha untuk mengubah kendalinya atas selat tersebut ke dalam suatu sistem, di mana kapal yang melintas harus membayar biaya bahkan setelah perang berakhir. Melihat ancaman yang diberikan Trump, Tabatabaei menganggap bahwa ancaman Trump sebagai tanda bahwa AS telah berlindung pada kata-kata kotor dan omong kosong karena putus asa dan marah.
Sebelumnya, presiden AS ini telah berulang kali menegaskan bahwa Iran sedang berupaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan bahwa pertempuran akan segera berakhir sejak konflik tersebut dimulai. Menanggapi pernyataan tersebut, Iran telah menegaskan bahwa pihaknya tidak berupaya untuk mengakhiri peran dan telah berjanji akan meningkatkan eskalasi di seluruh kawasan jika infrastrukturnya menjadi sasaran serangan.
Selain itu, sepanjang perang, para pejabat AS juga telah mengancam Iran dengan kekerasan yang luar biasa jika Iran tidak menyerah pada tuntutan AS. Bentuk ancaman ini terlihat pada Minggu lalu, saat Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth yang melontarkan ancaman untuk mengirim Iran “kembali ke Zaman Batu”.
Selama eskalasi perang, AS dan Israel telah menargetkan serangan mereka terhadap infrastruktur dan fasilitas sipil mulai dari jembatan, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga universitas. Melihat serangan ini, para ahli diketahui telah memperingatkan bahwa beberapa serangan tersebut berpotensi termasuk ke dalam kejahatan perang.




