Maskapai Batik Air Malaysia mengambil langkah strategis dengan mengurangi sekitar 35 persen jadwal penerbangannya pada paruh pertama April 2026. Kebijakan ini dilakukan sebagai respons terhadap melonjaknya harga bahan bakar avtur yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dalam memo internal tertanggal 1 April, CEO Chandran Rama Muthy menyebutkan bahwa langkah tersebut merupakan upaya antisipatif untuk menjaga efisiensi operasional, di tengah tekanan biaya yang semakin tinggi.
"Industri penerbangan saat ini menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal ini memicu volatilitas harga bahan bakar yang ekstrem dan mengganggu rantai pasok global," ujar Muthy, seperti dikutip dari Malay Mail.
Kenaikan harga bahan bakar jet memang terbilang signifikan. Dalam kurun waktu sekitar satu bulan sejak akhir Februari, harga avtur global hampir dua kali lipat, mencapai rata-rata 195,19 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Kondisi ini berdampak langsung pada biaya operasional maskapai yang kini semakin membengkak.
Sebagai langkah penyesuaian, Batik Air Malaysia memilih untuk mengurangi frekuensi penerbangan tanpa menghapus rute yang sudah ada. Chandran menjelaskan bahwa pendekatan ini diambil, agar layanan tetap berjalan dengan gangguan minimal.
"Kami berusaha menjaga keseimbangan operasional. Misalnya, dari tiga penerbangan menjadi dua, tanpa menutup rute yang tersedia," jelas Muthy.
Beberapa rute domestik seperti Kuala Lumpur-Penang mengalami penurunan frekuensi dari lima kali menjadi dua kali per hari. Hal serupa juga terjadi pada rute Kuala Lumpur-Kota Kinabalu yang dikurangi dari tiga menjadi dua penerbangan harian. Sementara itu, rute jarak jauh seperti Kathmandu dan Perth juga ikut disesuaikan, guna menghemat konsumsi bahan bakar.
Selain penyesuaian jadwal, maskapai juga menawarkan cuti tanpa bayaran secara sukarela kepada karyawan, serta menunda program pelatihan yang tidak bersifat mendesak. Perjalanan dinas yang tidak esensial pun untuk sementara dihentikan.
Kebijakan serupa juga dilakukan oleh sejumlah maskapai lain, seperti Malaysia Airlines, Air India, dan Cathay Pacific, yang menaikkan tarif dan biaya tambahan bahan bakar untuk menekan kerugian.
Meski telah menerapkan fuel surcharge, Chandran mengakui bahwa langkah tersebut belum mampu sepenuhnya menutup lonjakan biaya. Jika sebelumnya bahan bakar menyumbang sekitar 30-35 persen dari total biaya operasional, kini angkanya melonjak hingga 50-55 persen.
Ia juga menyinggung pernyataan Menteri Perhubungan Malaysia, Anthony Loke, yang menyebut pemerintah saat ini berada dalam "mode krisis" menghadapi dampak konflik di Timur Tengah.
"Kami tidak bisa menganggap situasi ini normal dan menjalankan bisnis seperti biasa. Penyesuaian ini bersifat sementara, demi menjaga keberlangsungan operasional," tegas Muthy.
Saat ini, Batik Air Malaysia belum memiliki kontrak lindung nilai (hedging) bahan bakar, sehingga lebih rentan terhadap fluktuasi harga. Namun, perusahaan memilih tetap berhati-hati, karena skema tersebut juga berisiko merugikan jika harga pasar tiba-tiba turun.
Dengan armada puluhan pesawat dan jaringan lebih dari 60 destinasi di 21 negara, maskapai ini memastikan kondisi keuangannya masih stabil. Meski begitu, langkah efisiensi tetap dilakukan, guna menjaga keberlanjutan bisnis di tengah ketidakpastian global.
"Hal positifnya, seluruh pihak dalam ekosistem industri kini saling berdiskusi untuk mencari solusi bersama. Kami melihat semangat kolaborasi yang kuat dari para mitra," tutupnya.





