FILM berjudul Aku Harus Mati memicu kontroversi karena materi promosi publik berupa baliho dinilai provokatif dan berpotensi memicu peniruan bunuh diri pada individu rentan
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi, mengatakan hal itu juga yang dikeluhkan para ahli kesehatan jiwa. Reaksi itu bukan sekadar soal estetika atau kebebasan berekspresi.
"Ketika tema bunuh diri dihadirkan tanpa kehati-hatian, dampaknya bisa menyentuh keselamatan publik," kata Imran kepada Media Indonesia, Selasa (7/4).
Baca juga : Pemerintahan Prabowo Disebut akan Lakukan Skrining Kesehatan Jiwa Gratis Tahunan
Ia menerangkan media dan materi promosi memiliki kekuatan untuk membentuk cara orang memahami masalah. Sehingga judul, gambar, atau narasi yang menyederhanakan bunuh diri bisa menjadi solusi atas penderitaan dapat menurunkan ambang resistensi bagi mereka yang sedang rapuh.
"Paparan berulang terhadap pesan yang meromantisasi atau menormalisasi tindakan tersebut dapat menjadi pemicu bagi individu dengan riwayat depresi, impulsivitas, atau pengalaman traumatis," ujar dia.
Oleh karena itu, menurut Imran, konteks penyajian menjadi krusial. Kekhawatiran profesional kesehatan jiwa dan langkah penertiban materi promosi yang dilaporkan menunjukkan bahwa efek provokatif bukan sekadar spekulasi.
Baca juga : Kesehatan Mental Orang Tua, Guru, dan Pengasuh Anak Perlu Rutin Dievaluasi
Dari laporan Kepolisan pada tahun 2023 tercatat 1.350 kasus kematian karena bunuh diri dan meningkat menjadi 1.450 pada 2024. Selain itu, layanan krisis kesehatan jiwa menunjukkan lonjakan panggilan dan pesan ke layanan healing119 dari sekitar 400 panggilan pada Agustus 2025 menjadi 550 panggilan per hari pada 2026.
"Angka tersebut menegaskan bahwa paparan publik terhadap materi sensitif terjadi dalam konteks kebutuhan layanan yang meningkat, sehingga komunikasi publik yang tidak bertanggung jawab berpotensi memperburuk situasi," ungkap Imran.
Kenaikan jumlah laporan dan permintaan bantuan juga menandakan dua hal sekaligus. Pertama, ada lebih banyak orang yang mengalami krisis kesehatan jiwa dan kedua yakni semakin banyak orang yang mencoba mencari bantuan sebuah sinyal penting bahwa akses dan respons layanan harus diperkuat.
"Namun, angka kematian yang dilaporkan juga mengingatkan bahwa upaya pencegahan belum sepenuhnya efektif dan bahwa paparan media yang tidak aman dapat menambah beban pada populasi yang rentan," pungkasnya. (Iam/P-3)





