Bisnis.com, JAKARTA—Entitas PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur (WTJJ), menegaskan transformasi bisnis berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG), yang sekaligus membuka akses pembiayaan hijau.
Sebagai pengelola proyek Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) SPAM Regional Jatiluhur I, WTJJ mengoperasikan salah satu infrastruktur air minum terbesar di Indonesia dengan kapasitas 4.750 liter per detik. Layanan ini menjangkau DKI Jakarta, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, dan Kabupaten Karawang dengan cakupan sekitar 2 juta jiwa.
Direktur Utama WTJJ Rendy Ardiansyah menyampaikan ESG tidak lagi diposisikan sekadar sebagai kewajiban pelaporan, melainkan telah menjadi strategi utama dalam pengambilan keputusan bisnis dan pengelolaan operasional perusahaan.
“ESG bukan hanya tentang kepatuhan, tetapi bagaimana perusahaan bisa beradaptasi dan tumbuh. Ini adalah strategi diferensiasi kami, sekaligus financing gateway untuk membuka akses pendanaan yang lebih luas,” tutur Rendy dalam keterangan resmi, Selasa (7/4/2026).
Dia menjelaskan, sektor infrastruktur termasuk air memiliki karakteristik padat modal dan sensitif terhadap sentimen pasar. Dalam hal ini, ESG menjadi instrumen penting untuk memperkuat profil risiko perusahaan di mata investor dan lembaga keuangan.
Pada 2025, WTJJ berhasil melakukan refinancing dari pinjaman konvensional menjadi pendanaan hijau senilai Rp1,29 triliun. Capaian ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap kinerja keberlanjutan perusahaan.
Baca Juga
- Rugi Rp1,8 Triliun Gegara Whoosh, Danantara Tak Libatkan Lagi WIKA di Proyek Kereta
- WIKA Bidik Suspensi Saham Dibuka Semester II/2026, Tunggu Restrukturisasi Tuntas
- WIKA Amankan Kontrak Tol Harbour Road II Rp5,82 Triliun, Progres Fisik 32,31%
Kinerja ESG WTJJ juga mendapat pengakuan global. Berdasarkan penilaian S&P Global pada Februari 2026, perusahaan mencatat skor ESG sebesar 55 dan menempatkan perusahaan sebagai peringkat pertama di Indonesia dan masuk lima besar dunia untuk kategori air.
Transformasi WTJJ dimulai dari internal perusahaan melalui penyelarasan visi, misi, dan pola pikir seluruh insan perusahaan. Pendekatan ini menjadi kunci sebelum perusahaan membangun kepercayaan eksternal.
Implementasi ESG kemudian diwujudkan secara konkret dalam operasional. Salah satu fokus utama adalah efisiensi energi, mengingat komponen ini menjadi biaya terbesar dalam pengelolaan sistem penyediaan air minum (SPAM).
Sebagai informasi, WTJJ telah mengadopsi teknologi variable speed drive pada hampir seluruh pompa, sehingga konsumsi listrik lebih terukur dan disesuaikan dengan kebutuhan secara real-time.
Selain itu, perusahaan juga mulai memanfaatkan energi terbarukan serta menerapkan sistem manajemen energi untuk meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas biaya. Upaya ini tidak hanya berdampak pada pengurangan emisi, tetapi juga memperkuat ketahanan bisnis dalam jangka panjang.
Sejak mulai beroperasi pada Desember 2024, proyek ini berperan penting dalam memperkuat ketahanan air perkotaan sekaligus mengurangi ketergantungan pada air tanah. Dengan memanfaatkan sumber air permukaan dari Waduk Jatiluhur, WTJJ memastikan penyediaan air bersih yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan.
Rendy menegaskan, investasi di sektor air tidak hanya berbicara tentang skema pendanaan, tetapi juga komitmen jangka panjang terhadap keberlanjutan layanan bagi masyarakat.
Ke depan, WTJJ berkomitmen untuk terus memperkuat integrasi ESG dalam seluruh lini bisnis. Melalui tata kelola yang transparan, manajemen risiko yang kuat, serta dampak keberlanjutan yang terukur, perusahaan optimistis dapat memperluas akses pembiayaan sekaligus menghadirkan infrastruktur air berkelas dunia yang berkelanjutan.





