Pengusaha tekstil mengungkap perang antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat (AS) mengerek bahan baku tekstil dan produk tekstil hingga 40 persen.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSYFI), Redma Gita Wirawasta, mengatakan harga bahan baku utama polyester yaitu paraxylene, saat ini sudah berada di level USD 1.300 per ton atau naik sekitar 40 persen dari 2 pekan yang lalu.
Redma menyebutkan, kenaikan bahan baku belum berdampak sepenuhnya pada industri hilir tekstil. Menurut dia, efek domino yang akan timbul dari kenaikan harga bahan baku baru akan terasa secara bertahap hingga 3 minggu ke depan.
"Dalam 1 minggu ke depan, kenaikan harga ini akan terdistribusi ke produsen kain dan 2 minggu berikutnya akan terdistribusi ke sektor pakaian jadi,” kata Redma dalam keterangannya, Selasa (7/4).
Redma kemudian membeberkan akan ada penyesuaian harga barang jadi sektor ritel hingga 10 persen. Meski demikian, Redma melihat permintaan pasar saat ini dalam kondisi yang stabil dengan kecenderungan permintaan meningkat. Hal ini dikarenakan kenaikan harga bahan baku impor juga jadi lebih tinggi dari produk lokal.
"Hingga saat ini bahan baku baik untuk polyester maupun rayon yang diproduksi di dalam negeri belum ada kendala, barangnya ada, hanya harganya yang tinggi,” jelasnya.
Dari sisi keterisian fasilitas produksi, Redma menyebutkan secara keseluruhan tingkat utilisasi nasional produsen polyester masih di bawah 40 persen dan utilisasi produsen rayon sekitar 70 persen.
"Belum bisa jalan full karena yang sudah berhenti tidak mau. Jalan lagi selama pemerintah membiarkan praktik unfair terus terjadi di pasar domestik. Jadi saat ini para produsen yang masih jalan hanya melayani konsumen loyal saja, mereka yang biasa menggunakan bahan baku impor tidak diprioritaskan" tutupnya.





