Richa Novisha Ungkap Fase Hidup usai Kepergian Gary Iskak, Akui Masih Rapuh dan Mudah Menangis

grid.id
3 jam lalu
Cover Berita

 

Grid.ID - Richa Novisha membagikan fase hidup yang sedang ia jalani setelah kepergian sang suami, almarhum Gary Iskak. Ia mengaku masih terus berusaha kuat meski duka yang dirasakan belum benar-benar hilang.

Diketahui, Gary Iskak meninggal dunia pada usia 52 tahun. Kepergiannya terjadi setelah ia mengalami kecelakaan sepeda motor pada November 2025 lalu.

Peristiwa itu tentu menjadi pukulan besar bagi Richa Novisha dan keluarga. Kehilangan sosok suami sekaligus ayah bagi anak-anaknya meninggalkan luka yang begitu mendalam.

Dalam kesehariannya, Richa mengaku masih berusaha terlihat tegar di hadapan banyak orang. Namun, di balik sikap tenangnya, ia menyimpan rasa sedih yang belum selesai.

“Sebenarnya kalau mau jujur, mungkin aku in front of orang gitu depan semua orang mungkin aku bisa berpura-pura baik, berpura-pura i have to pretending that I’am ok gitu,“ ujarnya dikutip dari YouTube @selvykitty204

Menurut Richa, rasa sakit dan rapuh itu tetap ada meski ia mencoba menutupinya. Ia merasa harus tetap berdiri kuat, terutama demi anak-anak dan tanggung jawab pekerjaannya.

“Cuma kan kalau hati pasti sakit ya, pasti rapuh, pasti sedih itu udah pasti banget. Tapi aku berusaha kuat di depan orang-orang, di depan anak-anak, di depan kalau aku lagi kerja karena aku profesional,” ungkapnya.

Richa pun mengaku kini sedang berada dalam fase menerima duka dengan lebih jujur. Ia tidak lagi memaksa dirinya untuk selalu terlihat baik-baik saja.

“Ya pasti perasannya sakit lah, karena aku tuh sekarang di dalam fase yang ‘enggak apa-apa kok aku masih berduka, enggak apa-apa kok kalau aku nangis ya nangis aja’. Cuma hidup harus berjalan terus,” jelasnya.

Meski begitu, wanita berusia 40 tahun ini menyadari bahwa hidup tidak bisa berhenti terlalu lama. Di tengah rasa kehilangan yang besar, ia tetap berusaha melangkah dan menjalani hari demi hari.

Ia juga percaya bahwa masa berduka tidak bisa dibatasi dengan waktu tertentu. Menurutnya, setiap orang memiliki perjalanan grieving yang berbeda dan tidak bisa dipaksakan.

 

“Tapi masa grieving itu enggak akan bisa ada waktunya, enggak akan ada limitnya. Aku enggak tau sampai kapan,” katanya.

Richa juga mengungkap bahwa dirinya masih sangat mudah terpicu oleh hal-hal kecil yang mengingatkannya pada mendiang suami. Beberapa suara atau suasana tertentu masih mampu membawanya kembali pada momen duka itu.

“Karena aku tuh cepat ke trigger, namanya kalau baru ditinggal kan sensitive level akut ya, maksudnya kita lebih baper. Kayak aku di jalan dengan suara ambulans aja aku nangis karena masih keingat pada saat kejadian. Terus dengan lagu yang sedih-sedih nangis, tapi itu pada saat aku sendiri,“ tuturnya.

Kini, wanita kelahiran Bogor ini berusaha menjalani hidup senormal mungkin sambil tetap memberi tempat bagi rasa dukanya. Ia tidak menolak kesedihan, tetapi memilih untuk menjalaninya sebagai bagian dari proses penyembuhan.

”Itu sih yang lagi ku jalani. Perasaannya ya mencoba untuk menjalani seperti normal tapi menikmati juga masa-masa berdukanya gitu,“ tutupnya. (*)

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penindakan Jaksa Karo, Hinca Panjaitan: Pelajaran bagi Penegak Hukum
• 12 jam laludisway.id
thumb
Ribuan Senpi Diperiksa, Polda Sumsel Perketat Pengawasan Internal
• 1 jam laluokezone.com
thumb
Jepang lanjutkan subsidi bensin, publik khawatir kondisi fiskal
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
MK Tekankan Kewenangan BPK Menetapkan Jumlah Kerugian Negara
• 11 jam lalukompas.com
thumb
ZChicken Baznas Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Mustahik di Jambi
• 58 menit lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.