Bisnis.com, CIREBON - Perekonomian Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning) pada 2025 mencatat pertumbuhan sebesar 5,09% secara tahunan. Hal ini menunjukkan tren stabil yang sejalan dengan kinerja ekonomi Jawa Barat.
Meski demikian, struktur ekonomi kawasan ini masih didominasi konsumsi rumah tangga, sementara dorongan investasi mulai menguat sebagai sinyal positif bagi pertumbuhan jangka panjang.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon Wihujeng Ayu Rengganis mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan daya tahan ekonomi regional di tengah dinamika global dan domestik.
"Pertumbuhan 5,09% ini menunjukkan ekonomi Ciayumajakuning tetap resilien. Ke depan, penguatan investasi menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan agar lebih berkualitas," kata Rengganis, Selasa (7/4/2026).
Kontribusi Ciayumajakuning terhadap perekonomian Jawa Barat tercatat sebesar 10,24%. Struktur ekonomi wilayah ini masih ditopang sektor industri pengolahan, pertanian, perdagangan, transportasi, serta konstruksi.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 61,03% dan tumbuh 4,14%.
Baca Juga
- Kunjungan Wisatawan ke Garut Capai 255.506 Orang saat Lebaran 2026
- Transaksi QRIS di Ciayumajakuning Tembus Rp3,58 Triliun Awal 2026
- Harga Pangan di Cirebon Kompak Turun, Cek Daftarnya Hari Ini 6 April
Sementara itu, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menyumbang 22,79% dengan pertumbuhan 5,60%. Konsumsi pemerintah tumbuh lebih terbatas sebesar 1,93% dengan kontribusi 5,84%.
Adapun konsumsi Lembaga Nonprofit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh 3,97% dengan porsi 1,03%. Di sisi lain, kinerja net ekspor mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,02%, meski kontribusinya relatif kecil, hanya 0,10%.
Rengganis menilai, dominasi konsumsi rumah tangga masih menjadi ciri utama ekonomi Ciayumajakuning. Namun, peningkatan investasi menjadi indikasi awal pergeseran struktur ekonomi ke arah yang lebih produktif.
"Investasi yang tumbuh di atas 5% menjadi sinyal positif. Ini penting untuk mendorong penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan kapasitas produksi daerah," ucapnya.
Dari sisi sektoral, industri pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar dengan pangsa 25,62%, meski pertumbuhannya relatif moderat sebesar 2,82%.
Sebaliknya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 8,96% dengan kontribusi 17,58%.
Sektor transportasi dan pergudangan juga mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 9,05% dengan pangsa 9,57%, mencerminkan peningkatan aktivitas distribusi dan logistik di kawasan tersebut.
Sementara sektor perdagangan besar dan eceran tumbuh 3,34% dengan kontribusi 13,63%, serta konstruksi tumbuh 5,28% dengan porsi 8,56%.
Secara wilayah, kontribusi terbesar terhadap perekonomian Jawa Barat berasal dari Indramayu sebesar 3,73%, disusul Kabupaten Cirebon 2,41%, Majalengka 1,65%, Kuningan 1,37%, dan Kota Cirebon 1,08%.
Meski pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif, sejumlah indikator sosial masih menjadi perhatian. Tingkat kemiskinan di Ciayumajakuning pada 2025 tercatat sebesar 9,02%, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di angka 6,10%.
Di sisi lain, pertumbuhan investasi tercatat sebesar 5,27%, memperkuat optimisme terhadap perbaikan struktur ekonomi ke depan.
Rengganis menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan.
Menurutnya, penguatan sektor produktif dan peningkatan kualitas investasi harus diiringi dengan penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.
"Pertumbuhan ekonomi yang baik harus diikuti dengan penurunan kemiskinan dan pengangguran. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan sektor keuangan menjadi sangat penting," katanya.
Dia menambahkan, pengembangan sektor industri bernilai tambah serta optimalisasi potensi pertanian dan logistik dapat menjadi strategi utama dalam mendorong transformasi ekonomi Ciayumajakuning.




