FAJAR, JAKARTA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) susulan bagi siswa yang belum sempat mengikuti ujian pada jadwal utama.
TKA jenjang SMP pada hari pertama dilaporkan berlangsung lancar dan terkendali. Tingginya antusiasme dari sekolah, siswa, dan orang tua menjadi indikator positif bahwa transformasi digital dalam sistem evaluasi pendidikan semakin dipahami dan diterima.
Berdasarkan data sementara, sebanyak 1.899.878 peserta mengikuti TKA pada hari pertama yang tersebar di berbagai satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
“Kami bersyukur pelaksanaan TKA hari pertama berjalan dengan baik. Ini adalah hasil kerja bersama banyak pihak, mulai dari sekolah, guru, pengawas, hingga tim teknis di pusat dan daerah,” ujar Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, di Jakarta, Selasa (7/4).
Pelaksanaan TKA dimulai secara serentak pukul 07.00 hingga 15.30 WIB dan dibagi ke dalam empat sesi. Sesi pertama diikuti 700.532 peserta, sesi kedua 675.330 peserta, sesi ketiga 419.391 peserta, dan sesi terakhir 104.625 peserta.
Kemendikdasmen sebelumnya telah menyediakan berbagai pilihan sesi pelaksanaan yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah. Pengaturan waktu ini diharapkan memberi kenyamanan dan rasa aman bagi seluruh peserta dalam mengikuti asesmen.
Toni menjelaskan, bagi peserta yang berhalangan hadir, khususnya karena sakit, bencana, atau kondisi kahar lainnya, pemerintah menyediakan TKA susulan yang dijadwalkan pada Mei 2025.
“Dengan adanya TKA susulan, seluruh peserta tetap memperoleh hak yang sama dalam mengikuti asesmen,” jelasnya.
Kemendikdasmen juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, satuan pendidikan, hingga orang tua dan peserta didik, atas dukungan dan partisipasi dalam menyukseskan pelaksanaan TKA.
Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan asesmen tidak hanya ditentukan oleh kesiapan sistem pusat, tetapi juga strategi pengaturan di tingkat satuan pendidikan.
“Kami percaya ini adalah proses belajar bersama. Dengan kolaborasi dan saling memahami, kita dapat menghadirkan sistem evaluasi yang semakin baik untuk anak-anak kita,” ungkapnya. (jpnn/*)





