Bisnis.com, JAKARTA — Perkumpulan Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) menyampaikan bahwa lonjakan harga minyak global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah mulai menekan industri air minum dalam kemasan (AMDK), dengan kenaikan harga bahan baku plastik yang menembus hingga 70% dan ancaman kelangkaan pasokan.
Ketua Umum Aspadin Firman Sukirman mengatakan, tekanan utama berasal dari dua komponen utama bahan baku plastik, yakni harga minyak dan fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
Pihaknya melihat bahwa kondisi tersebut membuat harga bahan baku melonjak signifikan dalam waktu singkat. Kenaikan dinilai tidak lagi berada di level moderat, melainkan sudah melampaui ambang batas yang bisa ditutup melalui efisiensi internal industri.
“Dengan naiknya harga minyak ini tentu berdampak terhadap harga beli daripada bahan baku itu sendiri jadi sangat mahal dan itu bisa naik di atas 36%, bahkan ada di atas 70% untuk saat ini,” kata Firman saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
Tidak hanya kenaikan harga, dia menyebut, industri juga menghadapi gangguan pasokan yang mulai terasa dalam beberapa waktu terakhir. Kelangkaan bahan baku dinilai berpotensi mengganggu keberlanjutan produksi, terutama bagi pelaku usaha skala UMKM.
Firman memperingatkan bahwa jika kondisi ini berlanjut tanpa intervensi yang memadai, dalam 2 bulan ke depan sebagian pelaku industri AMDK kecil dan menengah berpotensi menghentikan produksi akibat tidak tersedianya material kemasan.
Baca Juga
- Lonjakan Harga Plastik Mulai Menyengat UMKM
- Siap-Siap! Harga Air Minum Kemasan Naik Imbas Krisis Bahan Baku Plastik
- Harga Plastik Naik hingga 60%, Pemkot Surabaya Dampingi UMKM
“Bisa jadi 2 bulan ke depan itu ada beberapa industri AMDK dan UMKM itu tidak bisa produksi karena tidak dapat bahan baku,” katanya.
Sejauh ini, dia menyebut, biaya produksi yang membengkak tersebut membuat pengusaha mengambil keputusan mengerek naik harga jual. Firman mengakui bahwa ruang efisiensi internal sudah tidak cukup untuk menahan lonjakan biaya yang terjadi saat ini.
Menurutnya, kenaikan harga penjualan produk AMDK di tingkat ritel tercatat pada kisaran Rp2.000 hingga Rp3.000 per karton.
Tekanan harga tersebut diperkirakan masih akan berlanjut seiring ketidakpastian pasokan bahan baku. Firman menegaskan bahwa persoalan utama bukan hanya pada harga, melainkan ketersediaan bahan baku itu sendiri.
“Kalau semakin langka bisa semakin naik. Karena fluktuasi barang sekarang naik terus. Ini yang jadi masalah, bahan bakunya apakah tersedia atau tidak,” pungkasnya.





