Bisnis.com, JAKARTA — Produsen otomotif asal Vietnam, VinFast berupaya memperkuat ketahanan rantai pasok di tengah ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas operasional perusahaan di Indonesia.
CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, mengatakan perseroan terus memantau perkembangan global secara ketat dengan menerapkan strategi proaktif dan terdiversifikasi dalam mengelola risiko geopolitik maupun energi.
“Langkah ini mencakup perluasan dan diversifikasi basis pemasok, penguatan rantai pasok regional, serta percepatan lokalisasi di pasar-pasar utama,” ujar Kariyanto kepada Bisnis, Selasa (7/4/2026).
Dia menambahkan, strategi jangka panjang VinFast tetap berfokus pada elektrifikasi kendaraan. Pendekatan tersebut dinilai dapat menekan ketergantungan terhadap fluktuasi harga bahan bakar fosil sekaligus menciptakan operasional yang lebih stabil dan mudah diprediksi.
Ketegangan geopolitik global turut memengaruhi jalur distribusi internasional. Konflik Iran dengan AS-Israel mendorong harga minyak Brent melampaui US$100 per barel, disertai pelemahan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp17.000 per dolar AS.
Kariyanto menegaskan operasional dan target produksi VinFast di fasilitas Subang, Jawa Barat, masih berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan, meskipun dinamika global meningkat.
Baca Juga
- Daihatsu Pantau Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Kinerja Penjualan
- Pengusaha Mulai Beralih ke Truk Listrik di Tengah Lonjakan Harga Minyak
- Dharma Polimetal (DRMA) Genjot Produksi Komponen EV saat Harga Minyak Memanas
“Saat ini, VinFast belum melihat adanya gangguan yang terukur terhadap target produksi maupun kapasitas pabrik Subang. Operasional berjalan sesuai rencana, dan fasilitas tersebut berkembang sejalan dengan peta jalan yang telah ditetapkan,” jelasnya.
Di Indonesia, VinFast telah merealisasikan investasi lebih dari US$300 juta untuk pembangunan fasilitas produksi dengan kapasitas awal sekitar 50.000 unit per tahun yang berdiri di atas lahan seluas 171 hektare.
Dalam jangka menengah, perusahaan menargetkan tambahan investasi hingga mencapai US$1 miliar. Sejalan dengan itu, kapasitas produksi direncanakan meningkat menjadi 350.000 unit kendaraan per tahun guna memenuhi pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspor.
Selain kendaraan roda empat, VinFast juga berencana meluncurkan sepeda motor listrik di Indonesia pada kuartal II/2026 sebagai bagian dari ekspansi portofolio elektrifikasi.
Menurutnya, perusahaan berkomitmen membangun rantai pasok yang kuat melalui diversifikasi pemasok, kemitraan strategis, serta peningkatan lokalisasi komponen utama termasuk baterai kendaraan listrik.
“Kami juga memperkuat kolaborasi jangka panjang dengan mitra global maupun regional, sekaligus meningkatkan kapabilitas internal untuk memperbaiki fleksibilitas dan respons terhadap perubahan pasar,” pungkas Kariyanto.





