Jakarta, VIVA - Radiator coolant memiliki peran penting dalam menjaga suhu kerja mesin kendaraan tetap stabil. Cairan ini tidak hanya berfungsi mendinginkan, tetapi juga melindungi komponen sistem pendingin dari risiko korosi.
Dalam radiator coolant, terdapat kandungan utama berupa ethylene glycol yang berfungsi mengatur tingkat penguapan serta efektivitas pendinginan sesuai dengan teknologi mesin. Komposisinya pun disesuaikan dengan kebutuhan, terutama untuk mesin modern seperti direct injection, turbocharged, hingga kendaraan hybrid dan listrik.
“Keandalan radiator coolant tidak hanya dilihat dari kemampuan melepaskan panas mesin. Cairan ini juga harus memiliki kemampuan dalam menekan timbulnya karat dalam sirkulasi radiator,” ujar President Direktur PT Autochem Industry (AI), Henry Sada dalam keterangan resminya, Selasa 7 April 2026.
Ia menjelaskan, karat pada radiator dapat muncul akibat beberapa faktor, salah satunya penggunaan air biasa atau air keran yang mengandung mineral dan klorin. Kandungan tersebut, ditambah paparan panas dan oksigen, dapat mempercepat proses oksidasi pada logam seperti tembaga, aluminium, maupun baja di dalam sistem pendingin.
Selain itu, radiator yang jarang dibersihkan atau cairannya tidak diganti secara berkala juga berisiko mengalami penumpukan kerak dan karat. Kondisi tutup radiator yang tidak optimal turut membuka peluang masuknya oksigen dari luar, sehingga mempercepat korosi. Di sisi lain, cairan radiator juga memiliki masa pakai. Jika tidak diganti, aditif anti korosi akan habis dan membuat logam lebih rentan berkarat.
Secara umum, terdapat dua jenis teknologi aditif anti karat dalam radiator coolant, yaitu IAT (Inorganic Acid Technology) dan OAT (Organic Acid Technology).
IAT merupakan teknologi yang lebih lama dan umumnya digunakan pada kendaraan dengan radiator berbahan tembaga atau kuningan. Aditif ini bekerja dengan membentuk lapisan pelindung pada permukaan logam. Namun, bahan anorganik seperti fosfat, nitrit, borat, dan silikat yang digunakan cenderung cepat terurai, sehingga usia pakainya relatif singkat, sekitar 2–3 tahun atau 40.000 km.
Sementara itu, OAT merupakan teknologi yang lebih modern. Aditif ini bekerja dengan membentuk lapisan pelindung mikroskopis hanya pada area logam yang membutuhkan perlindungan. Karena tidak mengandung bahan anorganik, risiko terbentuknya endapan menjadi lebih kecil. Selain itu, usia pakainya juga lebih panjang, yakni mencapai 5–10 tahun atau hingga 100.000 km, tergantung kandungan glycol di dalamnya.





