Percepatan adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) mulai memberi dampak terhadap konsumsi energi global. Selain mendorong penurunan penggunaan bahan bakar fosil, tren ini juga memperkuat transisi energi menuju sistem yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Mengutip data Ember Energy dan International Energy Agency (IEA), penggunaan kendaraan listrik secara global telah memangkas konsumsi minyak sekitar 1,7 juta barel per hari. Angka tersebut mendekati volume ekspor minyak Iran yang mencapai sekitar 2,4 juta barel per hari melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.
Besarnya dampak ini menunjukkan bahwa elektrifikasi transportasi tidak hanya berperan dalam menekan emisi karbon, tetapi juga mengurangi ketergantungan global pada pasokan minyak.
Kerentanan pasokan energi fosil serta fluktuasi harga minyak dunia menjadi alasan utama berbagai negara mempercepat pengembangan energi terbarukan dan elektrifikasi sektor transportasi. Dalam konteks tersebut, kendaraan listrik menjadi bagian penting dari strategi transisi energi global.
Tren ini juga mulai terlihat di kawasan Asia Tenggara. ASEAN menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan adopsi kendaraan listrik yang semakin pesat pada 2025. Pangsa penjualan EV di beberapa negara bahkan sudah menembus dua digit.
Singapura mencatat pangsa penjualan kendaraan listrik sebesar 43%, diikuti Vietnam sekitar 40%. Sementara itu Thailand mencapai 21%, Indonesia sekitar 15%, dan Malaysia sebesar 6%. Negara ASEAN lainnya jika dijumlahkan memiliki pangsa sekitar 5%.
Kendati demikian, angka tersebut masih berada di bawah beberapa negara yang menjadi pemimpin global dalam elektrifikasi transportasi. Norwegia, misalnya, telah mencatat pangsa penjualan EV sekitar 92%, menjadikannya negara dengan adopsi kendaraan listrik tertinggi di dunia. Sementara itu China mencapai sekitar 50%, dan Amerika Serikat sekitar 10%, menurut data Ember.
Di kawasan ASEAN, Indonesia menunjukkan percepatan yang signifikan. Pangsa penjualan kendaraan listrik nasional telah mencapai 15% pada 2025, melampaui Amerika Serikat. Peningkatan ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang dirancang pemerintah untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik domestik.
Pemerintah memberikan sejumlah stimulus fiskal, antara lain Pajak Pertambahan Nilai (PPN) kendaraan listrik berbasis produksi lokal yang diturunkan menjadi 1%. Selain itu, pemerintah juga memberikan bea masuk 0% bagi produsen otomotif yang membangun pabrik dan berinvestasi di Indonesia.
Kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan penjualan kendaraan listrik, tetapi juga memperkuat industri dalam negeri, termasuk pengembangan rantai pasok baterai. Dampak awal dari kebijakan ini mulai terlihat pada sektor energi. Data Ember menunjukkan bahwa impor bahan bakar minyak (BBM) untuk sektor transportasi turun hingga sekitar 48%, seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik.
Dengan kombinasi kebijakan industri, insentif fiskal, dan penguatan ekosistem baterai, Indonesia berupaya mengambil peran strategis dalam transisi energi global. Di tengah meningkatnya adopsi kendaraan listrik di berbagai negara, elektrifikasi transportasi berpotensi menjadi salah satu faktor penting yang mengubah peta konsumsi energi dunia dalam dekade mendatang.




