Ketika seseorang datang ke rumah sakit atau ke fasilitas kesehatan, kondisi yang dirasakan sering kali bukan hanya rasa sakit secara fisik, tapi juga kecemasan, ketakutan, dan kebingungan terhadap keadaan yang sedang dialami. Pasien yang baru datang biasanya membutuhkan rasa aman dan keyakinan bahwa dirinya akan mendapatkan penanganan dan pelayanan yang tepat. Dalam situasi seperti ini, sosok perawat menjadi salah satu tenaga kesehatan yang pertama kali berinteraksi langsung dengan pasien.
Peran perawat bukan hanya bertugas memberikan tindakan medis atau membantu proses perawatan, tapi juga berperan penting dalam membangun kenyamanan emosional pasien. Hal-hal sederhana seperti sapaan yang hangat, senyum, cara berbicara yang lembut, serta kesiapsiagaan dalam merespons kebutuhan pasien sering kali menjadi kesan pertama yang akan melekat di benak pasien. Kesan pertama ini dapat memengaruhi bagaimana pasien menilai kualitas pelayanan yang diberikan selama menjalani perawatan. Menurut Jamilah dan Djamil (2021), sikap perawat memiliki pengaruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan yang dirasakan pasien. Sikap yang ramah, sabar, dan tanggap dapat membuat pasien merasa dihargai serta diperhatikan. Hal sederhana terhadap keluhan pasien sering kali menjadi alasan pasien merasa nyaman selama berada di fasilitas kesehatan.
Selain sikap, kemampuan perawat dalam menjaga keselamatan pasien juga menjadi perhatian penting. Menurut Sholikhah dan lainnya (2022), pengetahuan dan sikap perawat saling berhubungan dengan pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap. Hal ini menunjukkan bahwa kesan pertama yang baik tidak hanya berasal dari sikap, tapi juga dari profesionalisme dan ketelitian perawat dalam bekerja. Pasien cenderung merasa lebih percaya ketika melihat perawat yang sigap dan memahami tindakan yang dilakukan.
Komunikasi yang baik menjadi salah satu kunci utama dalam membangun rasa nyaman dan kepercayaan pasien. Menurut Rahmi & M (2022), komunikasi terapeutik yang diterapkan perawat di Puskesmas Herlang meliputi sapaan hangat, ekspresi wajah yang ramah, bahasa yang santun, serta kesabaran dalam mendengarkan keluhan pasien. Pendekatan ini membuat pasien merasa didengar dan diperhatikan. Tidak hanya itu, penjelasan yang jelas dan mudah dipahami juga membantu pasien tetap tenang dan percaya bahwa perawat mampu menangani kebutuhannya dengan baik. Hal-hal sederhana, seperti senyum, tutur kata lembut dan perhatian yang tulus ternyata memiliki pengaruh besar dalam membentuk hubungan saling percaya, meningkatkan kenyamanan, dan mendukung efektivitas layanan kesehatan secara keseluruhan.
Tidak hanya berhenti pada hubungan antara perawat dan pasien, komunikasi yang baik juga berpengaruh terhadap kesehatan secara lebih luas. Menurut Armirajanti, Nurhayati, & Sari (2022), komunikasi perawat memiliki hubungan positif yang kuat terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi yang baik tidak hanya berdampak pada kenyamanan pasien, tapi juga dapat memengaruhi perilaku kesehatan dan proses pemulihan pasien secara keseluruhan. Selain itu, menurut Zaini dan lainnya (2025), komunikasi efektif pada orientasi pasien baru terbukti meningkatkan kepuasan pasien. Penjelasan awal mengenai prosedur, fasilitas ruangan, serta proses perawatan membuat pasien dan keluarga merasa lebih tenang dan percaya terhadap pelayanan yang diberikan.
Kesan pertama perawat sangat penting bagi pasien karena hal-hal sederhana seperti senyum, sapaan hangat, dan perhatian tulus bisa membuat pasien merasa nyaman dan aman. Komunikasi yang baik dan sikap empati perawat tidak hanya meningkatkan kepercayaan pasien, tapi juga membantu proses perawatan berjalan lebih efektif. Dengan kata lain, kualitas pelayanan keperawatan tidak hanya dilihat dari tindakan medis, tapi juga dari cara perawat memperlakukan pasien. Oleh karena itu, perawat perlu terus mengasah kemampuan komunikasi dan empati untuk memberikan pengalaman perawatan yang terbaik bagi pasien.





