KETERSEDIAAN pupuk di dalam negeri tetap terjaga meskipun terjadi ketegangan di Selat Hormuz, Timur Tengah, yang berdampak pada jalur perdagangan internasional. Hal itu disampaikan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa (7/4). Ia juga memastikan bahwa stok pupuk nasional berada dalam kondisi aman dengan operasional pabrik yang berjalan optimal.
“Alhamdulillah stok aman, kita memiliki 1,29 juta ton stok, dan pabrik seluruhnya beroperasi dengan baik. Artinya ini akan terus kita pertahankan di level ini, tidak ada masalah,” kata Rahmad.
Ia menjelaskan bahwa Selat Hormuz memiliki peran vital dalam distribusi pupuk dunia, dengan kontribusi sekitar 30% terhadap perdagangan pupuk global setiap bulan.
Baca juga : Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Biji Plastik Dua Kali Lipat di Tasikmalaya
Meski demikian, Indonesia dinilai tidak mengalami dampak signifikan karena telah memiliki industri pupuk nasional yang mandiri dan kuat.
“Hingga hari ini, meskipun dunia gonjang-ganjing, pupuk Indonesia justru bisa berfungsi sebagai penyelamat ekosistem pangan dunia,” jelasnya.
Sejumlah negara seperti Brasil, India, Australia, Thailand, dan Amerika Serikat mulai merasakan dampak terganggunya pasokan pupuk global. Namun, kondisi Indonesia tetap stabil tanpa gangguan berarti.
Baca juga : Jembatan Saudi-Bahrain Ditutup Jelang Ultimatum Trump
Ketahanan sektor pertanian nasional kembali terbukti di tengah dinamika global, termasuk potensi terganggunya distribusi pupuk dunia akibat konflik di kawasan tersebut. Pemerintah memastikan bahwa stok pupuk tetap mencukupi dan distribusi kepada petani berlangsung lancar.
Rahmad menilai keberhasilan ini tidak terlepas dari arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang dijalankan secara optimal oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman beserta jajaran, serta dukungan dari Komisi IV DPR RI.
Menurutnya, kondisi ini patut disyukuri karena menunjukkan kekuatan sistem pangan nasional yang terintegrasi dan responsif terhadap situasi global.
“Kita patut bangga dan bahagia di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo yang dieksekusi dengan luar biasa oleh Kementan dan tentunya dukungan dari Komisi IV DPR RI, kita semua bisa tidur nyenyak. Karena seluruh ekosistem pangan kita aman,” ujar Rahmad.
Lebih lanjut, Rahmad mengungkapkan bahwa pemerintah telah melakukan reformasi besar dalam tata kelola pupuk sejak tahun 2025 melalui dua regulasi utama, yakni Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025.
“Di bawah instruksi dan kepemimpinan dari Bapak Mentan dan tentunya dukungan dari Komisi IV, di tahun 2025 kita sudah melakukan perubahan tata kelola yang cukup signifikan. Yang pertama adalah Perpres Nomor 6 Tahun 2025 yang intinya adalah deregulasi," jelasnya.
"Kalau dulu pupuknya tersedia di pabrik dan di gudang, tapi petani belum bisa menebus karena aturannya mengular. Ini dipersingkat sehingga kalau Pak Mentan menginstruksikan kami, kami bisa langsung menyalurkan kepada petani,” tambah Rahmad.
Selain itu, Perpres Nomor 113 Tahun 2025 memberikan fleksibilitas bagi Pupuk Indonesia untuk melakukan modernisasi pabrik serta meningkatkan efisiensi operasional, yang berdampak pada penurunan harga pupuk.
“Yang intinya (Perpres Nomor 113 Tahun 2025) memberikan ruang bagi Pupuk Indonesia untuk bisa meremajakan dan merevitalisasi pabrik serta beroperasi sesuai kaidah efisiensi. Hasilnya berdampak pada keterjangkauan karena harga pupuk sudah diturunkan HET-nya sebesar 20%,” tambahnya.
Kemudahan dalam memperoleh pupuk serta penurunan harga tersebut turut mendorong peningkatan penyerapan pupuk oleh petani sepanjang 2025 hingga 2026. Hal ini berkontribusi langsung terhadap peningkatan produksi pertanian nasional.
“Karena petani mudah menebus pupuk dan harganya turun, maka penebusan pupuk di tahun 2025 dan 2026 ini terus meningkat. Ini juga terbukti dari penyerapan gabah oleh Bulog yang terus meningkat. Artinya ada keterkaitan langsung antara pupuk dengan produksi pertanian,” kata Rahmad.
Ia juga menekankan bahwa pupuk merupakan komponen penting dalam meningkatkan hasil pertanian, sehingga kebijakan subsidi pupuk memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas dan stabilitas ekonomi.
“Pupuk adalah critical agro input, input yang sangat penting bagi produktivitas pertanian. Berbeda dengan subsidi konsumtif, subsidi pupuk adalah subsidi produksi. Jika serapan pupuk meningkat, maka sudah pasti akan meningkatkan produktivitas pertanian dan membantu menjaga inflasi,” katanya. (E-4)





