Desi (20) berjalan mendekati instalasi seni berwujud pintu raksasa yang berukuran hampir tiga kali tinggi badan mahasiswi itu. Pintu yang dihiasi dengan cat semprot oleh seniman Tuyuloveme itu membuat pengunjung pameran ”Tidak Ada Makan Siang Hari Ini” di galeri EDSU House, Sleman, DI Yogyakarta, itu terkesima, Selasa (7/4/2026).
Tak lama, Desi dan tiga teman sekampusnya pada siang itu beralih ke karya Neus One. Perupa itu menampilkan sejumlah karyanya dalam wujud miniatur, lengkap dengan sosok dirinya dalam ukuran mini yang terlihat tengah menyemprotkan cat ke sejumlah tempat.
Neus One menampilkan miniatur karyanya yang pernah ia buat di Rumah Makan Lie Djiong di kawasan Gondomanan. Seniman itu juga menyajikan sejumlah karyanya di beberapa tempat lain secara unik dan menggelitik secara visual.
Pameran pada galeri yang berada dalam satu bangunan dengan sebuah hotel di bilangan Jalan Kaliurang ini menghadirkan karya para perupa yang berangkat dari praktik seni jalanan. Mereka adalah Begok Oner, Digie Sigit, Media Legal, Neus One, Pangestumu, Riski Reas, Sicovecas, dan Tuyuloveme.
Melalui grafiti, instalasi seni, dan sejumlah jenis karya lainnya, para seniman membawa energi ruang publik ke dalam konteks galeri. Bentuk-bentuk yang biasanya hadir di tembok kota, di ruang yang terbuka dan tak terduga, kini berhadapan dengan ruang pamer yang terang dan terstruktur.
Tajuk ”Tidak Ada Makan Siang Hari Ini” merujuk pada pengalaman mengunjungi pameran. ”Makan siang” dalam konteks ini adalah metafora bagi kenyamanan visual yang kerap ditawarkan oleh ruang putih, jernih, dan seolah netral.
Pameran ini justru menunda kenyamanan tersebut. Pengunjung tidak disuguhi citra yang siap dikonsumsi secara instan, tetapi diajak untuk menyadari jejak, lapisan, dan proses yang membentuk setiap karya.
Galeri itu juga menyediakan sebuah instalasi yang dinamai Sticker Wall. Pengunjung bebas mencorat-coret, menempeli stiker, dan berbuat apa pun pada instalasi itu agar mendapat pengalaman seperti layaknya para seniman mural jalanan ketika tengah berkarya.
Pameran tersebut memanggungkan karya seni jalanan ke galeri yang memiliki atmosfer 180 derajat dibanding kondisi jalan atau ruang publik tempat karya sesungguhnya dipajang. Ajang pameran ini berlangsung hingga 3 Mei 2026.





