Kartini dan Emansipasi Perempuan, Mengapa Masih Penting di Era Modern?

grid.id
12 jam lalu
Cover Berita

 

Grid.IDInilah perjuangan Kartini dan emansipasi perempuan. Mengapa masih penting di era modern?

Kartini tentu bukan sosok yang asing bagi masyarakat Indonesia. Ia dikenal sebagai tokoh pelopor di bidang pendidikan sekaligus perjuangan emansipasi perempuan.

Sejak abad ke-19, Kartini telah menyuarakan pemikiran bahwa perempuan berhak memperoleh pendidikan serta kebebasan berpikir yang setara dengan laki-laki. Ia memaknai emansipasi perempuan bukan hanya sebagai kesetaraan secara formal, melainkan juga perubahan sosial dan ekonomi yang mampu membebaskan perempuan.

Sebelum membahas lebih jauh, masih banyak yang bertanya, apa sebenarnya makna emansipasi perempuan? Mari kita pahami bersama!

Pengertian emansipasi perempuan

Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), emansipasi berarti pembebasan dari perbudakan. Istilah ini juga merujuk pada kesetaraan hak dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki.

Sementara itu, emansipasi perempuan dapat dimaknai sebagai proses pembebasan perempuan dari posisi sosial dan ekonomi yang rendah, maupun dari aturan yang membatasi ruang gerak untuk berkembang. Dengan demikian, emansipasi bukan sekadar menuntut persamaan dengan laki-laki tanpa mempertimbangkan kodrat, melainkan bagaimana perempuan dapat menjalankan peran dan potensinya secara optimal.

Mengutip jurnal karya Azis Setyagama (2014), gerakan emansipasi perempuan mulai berkembang pesat di Barat pada era 1960-an melalui berbagai aliran feminisme, seperti feminisme liberal, radikal, hingga Marxis. Gerakan tersebut memperjuangkan kesetaraan hak, peluang, dan masa depan bagi perempuan, termasuk dalam hal upah kerja yang setara antara pekerja laki-laki dan perempuan.

Selain itu, isu perlindungan perempuan dari kekerasan, seperti pemerkosaan dan pelecehan seksual, juga menjadi fokus utama perjuangan.

Kartini dan perjuangan emansipasi

Di Indonesia, gagasan emansipasi perempuan mulai diperjuangkan oleh Kartini, khususnya dalam membuka akses pendidikan yang setara bagi perempuan. Pada masa penjajahan Belanda, kesempatan bersekolah umumnya hanya diberikan kepada laki-laki, sementara perempuan lebih diarahkan untuk mengurus rumah tangga.

 

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dari keluarga bangsawan Jawa. Ayahnya adalah RMAA Sosroningrat. Meski tumbuh dalam lingkungan budaya Jawa yang kuat, Kartini memiliki semangat belajar yang tinggi dan rasa ingin tahu yang besar.

Di tengah keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan, Kartini beruntung mendapat dukungan dari ayahnya untuk bersekolah di Europese Lagere School (ELS), sekolah Belanda bagi pribumi. Dari sana, ia mengenal bahasa Belanda serta budaya Barat, yang semakin memperluas wawasannya melalui berbagai bacaan.

Pemikiran Kartini tentang kesetaraan perempuan tergolong maju pada masanya. Gagasan tersebut ia tuangkan dalam surat-surat yang kemudian dibukukan oleh J.H. Abendanon.

Dalam tulisannya, Kartini kerap mengungkapkan kegelisahan atas terbatasnya ruang gerak perempuan. Bahkan, dalam salah satu suratnya kepada sahabatnya, Stella, ia menyatakan keinginannya untuk meraih kebebasan.

Salah satu cita-cita Kartini adalah mendirikan sekolah bagi semua kalangan setelah menikah dengan Bupati Rembang dan menyandang gelar Raden Ayu. Namun, ia wafat pada 17 September 1904, beberapa hari setelah melahirkan putra pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat.

Meski usianya singkat, pemikiran Kartini mampu membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dan kesetaraan bagi perempuan. Selain di bidang pendidikan, Kartini juga berperan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pengenalan keterampilan seperti merajut dan menyulam.

Perjuangannya kemudian menginspirasi berdirinya berbagai sekolah perempuan di sejumlah daerah, seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, hingga Cirebon. Semangat emansipasi yang dirintis Kartini juga dilanjutkan oleh tokoh-tokoh lain, seperti Dewi Sartika dan Raden Ayu Lasminingrat.

Relevansi Kartini di era modern

Memasuki era kemerdekaan, semangat Kartini tetap relevan hingga kini. Sebagai contoh, masih ada pandangan di sebagian masyarakat, terutama di pedesaan, yang menganggap perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi.

Selain itu, data Komnas Perempuan menunjukkan bahwa kasus kekerasan berbasis gender pada 2025 meningkat sebesar 14,17 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa perjuangan untuk mewujudkan kesetaraan dan perlindungan hak perempuan masih terus berlanjut.

Saat ini, berbagai pihak, baik pemerintah maupun komunitas, terus berupaya menyuarakan keadilan dan memperjuangkan hak perempuan. Perempuan tidak hanya berhak menyampaikan pendapat, tetapi juga memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi serta menduduki posisi strategis di berbagai bidang.

 

Dalam salah satu suratnya kepada Rosa Abendanon pada 25 Mei 1903, Kartini juga menyampaikan harapannya tentang masa depan perempuan yang lebih maju, berpendidikan, dan setara.

“Saya ingin perempuan tidak hanya diingat karena kecantikannya, tetapi juga karena pemikirannya. Pendidikan adalah kunci membebaskan mereka dari keterbelakangan, dan saya ingin membuka pintu itu bagi sesama perempuan." (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Timnas Indonesia U-17 di Piala AFF U-17 2026: Turnamen Debut Mantan Pelatih Como Kurniawan Dwi Yulianto
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Operasi Prostat Jadi Alasan, Sidang Mantan Dirut PGN Hendi Prio Santoso Ditunda Lagi
• 1 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Mentan Jamin Harga Pupuk Subsidi Tetap Stabil di Tengah Krisis Selat Hormuz
• 7 jam lalumatamata.com
thumb
Solid ala POM TNI dan Propam Polri: Gelar Coffee Morning
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Menhaj Sebut Kenaikan Harga Avtur Pengaruhi Biaya Haji
• 5 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.