China Batasi Kenaikan Harga BBM dan Solar Redam Dampak Perang di Iran

kumparan.com
16 jam lalu
Cover Berita

China kembali menahan kenaikan harga bensin dan solar hanya sekitar setengah dari skema normal pada Selasa (7/4). Langkah itu sebagai upaya meredam dampak lonjakan harga minyak akibat perang Iran dan penutupan Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) menyatakan, batas atas harga bensin dan solar eceran masing-masing akan naik sebesar 420 yuan atau sekitar USD 61,18 dan 400 yuan per ton mulai Selasa (7/4) tengah malam. Penyesuaian ini diperkirakan menambah biaya sekitar USD 2,4 bagi pemilik mobil pribadi untuk mengisi tangki 50 liter bensin RON 92.

Dalam mekanisme harga normal, kenaikan seharusnya mencapai 800 yuan untuk bensin dan 770 yuan untuk solar per ton. Pemerintah China menegaskan akan terus menerapkan langkah-langkah pengendalian harga bahan bakar untuk menekan dampak lonjakan harga minyak global terhadap pasar domestik.

NDRC melakukan evaluasi dan penyesuaian harga bensin dan solar setiap 10 hari kerja di seluruh wilayah. Penyesuaian ini didasarkan pada pergerakan harga minyak mentah internasional serta mempertimbangkan biaya pengolahan, pajak, distribusi, dan margin keuntungan yang wajar.

Sebelumnya, China menaikkan harga bensin dan solar masing-masing sebesar 1.160 yuan dan 1.115 yuan per ton pada 23 Maret, tetapi masih menahan kenaikan hanya sekitar setengah dari level yang seharusnya.

Sebagai konsumen minyak terbesar kedua di dunia, China dinilai mampu menghadapi guncangan harga minyak akibat perang lebih baik dibandingkan banyak negara Asia lainnya. Hal ini didukung oleh diversifikasi pasokan energi, adopsi kendaraan listrik yang cepat, serta cadangan minyak yang memadai.

Data indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur resmi menunjukkan dampak awal perang terhadap ekonomi China dan pengguna akhir relatif terbatas. Namun, kondisi ini tidak sepenuhnya dirasakan oleh sektor penerbangan, di mana maskapai terpaksa menaikkan biaya tambahan bahan bakar.

Para ekonom memperingatkan, konflik tersebut berpotensi memicu 'inflasi buruk' di China, karena lonjakan biaya input di basis manufaktur terbesar dunia dapat semakin menekan margin keuntungan yang sudah tipis.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Preview Barcelona vs Atletico Madrid: Tak Ada yang Berani Sesumbar
• 11 jam laluharianfajar
thumb
Polisi Tangkap 5 Debt Collector Tarik Paksa Kendaraan Warga di Bogor
• 12 jam laludetik.com
thumb
Foto: Longsor di Cadas Pangeran, Jalan Penghubung Bandung-Cirebon Ditutup Total
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Bandar Narkoba 'The Doctor' Terkenal Licin dan Berhasil Kabur saat Ditangkap di Malaysia
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Netanyahu Dukung Gencatan Senjata AS-Iran, tapi Tolak Hentikan Agresi ke Lebanon
• 11 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.