FTSE Russell Pertahankan Status RI sebagai Secondary Emerging Market

bisnis.com
15 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Penyedia indeks global FTSE Russell mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang sekunder, walaupun masih belum akan memasukkan saham-saham Tanah Air ke dalam rebalancing indeks tengah tahun.

FTSE Russell dalam pernyataan resmi mengumumkan masih terus memantau secara ketat reformasi integritas pasar modal di Indonesia. FTSE Russell pun memastikan bahwa Indonesia tidak masuk dalam daftar pemantauan atau Watch List untuk saat ini. Status sebagai Secondary Emerging Market tetap dipertahankan sembari menunggu progres lanjutan dari reformasi yang berjalan.

"Setelah penundaan tinjauan indeks bulan Maret 2026 untuk Indonesia, FTSE Russell sedang mengevaluasi kemajuan berbagai langkah reformasi yang dirancang untuk memperkuat transparansi, integritas, dan tata kelola pasar secara keseluruhan, sebagaimana dijelaskan dalam FAQ FTSE Russell mengenai perlakuan terhadap saham-saham Indonesia," tulis FTSE Russell, Rabu (8/4/2026).

Baca Juga : FTSE Russell Kembali Tunda Rebalancing Saham RI, Pertahankan Status Pasar Berkembang Sekunder

Adapun, FTSE Russell mengapresiasi langkah reformasi pasar modal RI. Dalam perkembangannya, regulator pasar modal Indonesia sudah memperkenalkan serangkaian inisiatif dalam beberapa bulan terakhir.

Agenda reformasi itu termasuk peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham, perluasan kategori klasifikasi investor, persyaratan minimum free float, dan penguatan alat pengawasan pasar.

Reformasi pasar modal Tanah Air ini bertujuan untuk mengatasi kekhawatiran yang sebelumnya diidentifikasi oleh MSCI terkait transparansi dan keandalan data pasar.

"FTSE Russell akan terus memantau perkembangan implementasi serta berinteraksi dengan para pelaku pasar untuk mengumpulkan masukan. FTSE Russell akan mengonfirmasi perlakuan terhadap sekuritas Indonesia sebelum tinjauan indeks bulan Juni 2026, dengan mempertimbangkan kemajuan reformasi dan masukan dari para pemangku kepentingan," tulis FTSE Russell.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Operator Kereta Cepat Whoosh Jadi Diambil Alih Kemenkeu? Ini Kata Purbaya
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Prabowo Soroti Bahaya AI: Ada Video Saya Bernyanyi dan Pidato Mandarin, Padahal Tidak Pernah
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
2 Copet yang Beraksi Siang Bolong di Dekat Stasiun Jatinegara Ditangkap Polisi
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Tragis! Serangan Israel Hantam Gaza saat Bagi Makanan, 7 Orang Tewas dalam 48 Jam Terakhir
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Perluas Peluang Kerja Lulusan Berkebutuhan Khusus, 137 SLB Jatim Gandeng Industri
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.