Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.092 pada Selasa, 7 April 2026. Posisi rupiah itu melemah 55 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.037 pada perdagangan Senin, 6 April 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 8 April 2026 hingga pukul 09.02 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.985 per dolar AS. Posisi itu menguat 120 poin atau 0,70 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.105 per dolar AS.
- Pixabay/IqbalStock
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, para ekonom menilai desain subsidi berbasis komoditas membuka celah konsumsi oleh kelompok mampu. Skema subsidi energi yang belum tepat sasaran menjadi sorotan di tengah lonjakan harga minyak global.
BBM bersubsidi masih dapat diakses tanpa pembatasan yang jelas. Kondisi ini membuat distribusi subsidi tidak sepenuhnya dinikmati kelompok yang berhak, dan berisiko menimbulkan ketimpangan di lapangan. Kelompok seperti nelayan yang berhak justru berpotensi kekurangan pasokan.
Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik global menjadi pukulan telak bagi kondisi fiskal Indonesia di tengah ketergantungan tinggi pada impor BBM. Kenaikan harga yang jauh di atas asumsi APBN telah memperbesar beban subsidi energi.
Harga minyak telah melampaui asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Kenaikan hingga sekitar US$113 per barel memicu tekanan signifikan terhadap anggaran negara.
Ibrahim menekankan, fokus sasaran subsidi mesti dipertajam. Ketika harga minyak melonjak ke US$113 per barel, yang berarti lebih dari 60 persen di atas asumsi APBN, tekanan fiskal langsung terasa melalui pembengkakan subsidi dan kompensasi.
Di sisi lain, ruang fiskal pemerintah dinilai semakin terbatas untuk meredam gejolak tersebut. Kenaikan harga energi berisiko memperlebar defisit jika tidak diimbangi langkah efisiensi. Penyesuaian harga BBM bukan opsi ideal dalam jangka pendek.
Daya beli masyarakat masih lemah, sehingga kebijakan tersebut berpotensi menambah tekanan ekonomi. Sebagai alternatif, pemerintah didorong melakukan efisiensi belanja dan realokasi anggaran. Langkah ini dinilai lebih realistis untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah lonjakan harga minyak global.





