Bisnis.com, JAKARTA — Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) memandang kenaikan tarif tiket pesawat akibat lonjakan harga avtur akan mengubah pola konsumsi masyarakat, khususnya kelas menengah.
Wakil Ketua Umum Bidang Ekosistem Transportasi Udara MTI Elfi Emir menilai pembatasan kenaikan tarif di kisaran 9%—13% memang masih dalam batas toleransi, terutama bagi kelas menengah. Namun, tekanan harga tetap mendorong sebagian masyarakat menahan perjalanan yang bersifat tidak mendesak.
Perubahan paling terlihat terjadi pada segmen wisata dan perjalanan rekreasi. Kenaikan harga tiket membuat masyarakat cenderung mengalihkan rencana perjalanan ke destinasi yang dapat dijangkau melalui jalur darat atau bahkan menunda liburan.
“Untuk sektor pariwisata dan perjalanan hiburan, kenaikan tiket tetap akan mengurangi minat terbang,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (8/4/2026).
Tevi, sapaannya, melihat kondisi ini mencerminkan pergeseran konsumsi transportasi, di mana perjalanan udara yang sebelumnya menjadi pilihan utama untuk efisiensi waktu mulai tergantikan oleh moda lain yang lebih ekonomis.
Di sisi lain, perjalanan dengan kebutuhan mendesak seperti bisnis, kedinasan, dan urusan keluarga tetap menunjukkan ketahanan. Karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membuat transportasi udara sulit tergantikan untuk perjalanan lintas pulau.
Baca Juga
- Utak Atik Tarif Tiket Pesawat Kala Harga Avtur Melonjak
- Pemerintah Tunda Pembahasan Kenaikan Tarif Batas Atas Tiket Pesawat, Ini Alasannya
- Harga Tiket Pesawat Naik, Pemerintah Beri Insentif Pajak hingga Relaksasi buat Pertamina
Meski demikian, ketahanan di segmen ini tidak cukup untuk menahan potensi penurunan permintaan secara keseluruhan. Menurutnya, terdapat risiko perlambatan trafik penumpang, terutama pada rute-rute wisata yang sensitif terhadap harga.
Lebih jauh, pergeseran ini juga berpotensi memberikan efek berantai ke sektor lain. Penurunan mobilitas wisatawan udara, misalnya, dapat berdampak pada tingkat hunian hotel, okupansi destinasi wisata, hingga perputaran ekonomi daerah yang bergantung pada konektivitas penerbangan.
Padahal, penerbangan domestik masih harus berjuang pulih dari pandemi Covid-19 dan baru mencatatkan pertumbuhan positif pada masa angkutan Lebaran 2026 kemarin, sebesar 8,6% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Berbeda dari masa libur Nataru, di mana penumpang domestik masih mencatatkan kontraksi tipis sebesar -0,91% secara tahunan.
Berdasarkan pantauan Bisnis pada laman online travel agent (OTA) dan maskapai resmi, harga tiket pesawat terpantau sudah mengalami kenaikan dibandingkan bulan lalu.
Misalnya pada penerbangan dari Jakarta melalui Bandara Internasional Soekarno—Hatta (CGK) menuju Yogyakarta International Airport (YIA), tiket kelas ekonomi dijual mulai dari harga Rp900.000an. Padahal sebelumnya, tiket termurah untuk rute ini ada di angka Rp600.000an.
Pada rute dari CGK ke Kualanamu (KNO) yang sebelumnya menjadi rute favorit saat Lebaran pun kini dibanderol dengan harga termurah Rp1,6 juta.
Sementara untuk rute CGK menuju Denpasar (DPS), tak ada lagi tiket murah di bawah Rp1 juta, yang sebelumnya kerap ditawarkan maskapai. Misalnya Citilink, menjual tiket untuk rute ini dengan harga mulai Rp1,6 juta dan Lion Air menjualnya mulai dari Rp1,4 juta.





