Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan pada perdagangan Rabu (08/04/2026) pagi, mengikuti sentimen positif dari bursa kawasan Asia.
Penguatan ini dipicu gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran selama dua pekan, sehingga menenangkan pasar yang sempat cemas akan eskalasi geopolitik.
IHSG dibuka naik 191,38 poin atau 2,75 persen ke posisi 7.162,41, sementara indeks LQ45, yang terdiri dari 45 saham unggulan, menguat 22,61 poin atau 3,22 persen ke level 724,27.
“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan level support dan resistance di kisaran 6.920 hingga 7.240,” kata Maximilianus Nico Demus Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, dilansir dari Antara.
Dari sisi global, ketegangan meningkat setelah Donald Trump Presiden AS sebelumnya mengancam akan menyerang infrastruktur Iran jika tidak ada kesepakatan hingga pukul 20.00 waktu AS. Namun, negosiasi mendapat perpanjangan waktu, dengan tenggat baru pada 21 April 2026, sehingga pasar merespons positif.
Dampak langsungnya terlihat pada harga minyak dunia. Minyak mentah jenis WTI turun 14,63 persen ke level 96,43 dolar AS per barel, sedangkan Brent turun 12,86 persen ke level 95,22 dolar AS per barel pada pukul 09.18 WIB.
Selain ketegangan geopolitik, pelaku pasar juga menunggu risalah rapat FOMC (FOMC Meeting Minutes) pada Kamis (9/4/2026), yang akan menjadi acuan terkait proyeksi suku bunga The Fed.
Data inflasi AS, seperti Personal Income, Personal Consumption, PCE Price Index, GDP Price Index, dan CPI, akan menjadi fokus utama investor untuk melihat arah kebijakan moneter.
Di dalam negeri, Kementerian Keuangan menegaskan bahwa APBN tetap kuat meski harga minyak dunia meningkat. Pemerintah telah melakukan simulasi fiskal untuk skenario harga minyak 80–100 dolar AS per barel, dengan defisit tetap diperkirakan sekitar 2,9 persen dari PDB.
Langkah efisiensi belanja dan strategi mitigasi disiapkan untuk menjaga stabilitas subsidi BBM dan ruang fiskal, meski sensitivitas terhadap harga energi tetap tinggi.
Sementara itu, kinerja bursa global kemarin menunjukkan perbedaan arah. Bursa Eropa melemah, dengan Euro Stoxx 50 turun 1,07 persen, FTSE 100 melemah 0,84 persen, DAX Jerman turun 1,06 persen, dan CAC 40 Prancis turun 0,67 persen.
Di sisi lain, Wall Street mayoritas menguat, meski Dow Jones Industrial Average melemah tipis 0,18 persen ke 46.584,46, S&P 500 naik 0,08 persen ke 6.616,85, dan Nasdaq Composite menguat 0,10 persen ke 24.202,37.
Di Asia, sentimen positif mendorong bursa regional menguat. Indeks Nikkei naik 5,01 persen ke 56.104,00, Shanghai Composite meningkat 1,55 persen ke 3.950,40, Hang Seng menguat 2,28 persen ke 25.690,00, dan Straits Times naik 0,75 persen ke 4.995,05. (ant/saf/ipg)




