Penulis: Fityan
TVRINews, Jakarta
Kabar damai Iran-AS bawa angin segar bagi mata uang Garuda Hari ini.
Nilai tukar rupiah menunjukkan momentum pemulihan signifikan pada perdagangan Rabu 8 April 2026 pagi, menjauh dari zona merah setelah sempat menyentuh titik terendah dalam sejarah.
Penguatan ini dipicu oleh meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah menyusul keputusan Amerika Serikat untuk menunda operasi militer terhadap Iran.
Berdasarkan data Bloomberg Internasional , mata uang Garuda dibuka pada level Rp16.986 per dolar AS, mencatatkan apresiasi sebesar 0,70% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Sebagai catatan, pada perdagangan Selasa 7 April 2026), rupiah sempat terjerembab ke level Rp17.105 per dolar AS, sebuah angka yang menandai periode paling rentan bagi mata uang domestik sepanjang sejarah.
Langkah Diplomasi dan Pembukaan Selat Hormuz
Sinyal perdamaian menguat setelah Presiden Trump melalui platform Truth Social membagikan pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, yang membuka ruang deeskalasi.
Teheran menyatakan kesiapannya untuk menghentikan operasi pertahanan dengan syarat seluruh serangan terhadap wilayah mereka dihentikan.
Dalam surat resmi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang dikutip dari Al Jazeera, Araghchi menegaskan posisi Iran terhadap proposal perdamaian 15 poin yang diajukan AS.
"Jika serangan terhadap Iran dihentikan, militer kami akan menghentikan operasi pertahanan mereka," tulis Araghchi.
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Iran berencana membuka akses pelayaran di Selat Hormuz secara terbatas selama dua minggu ke depan di bawah koordinasi teknis militer.
Peran Mediator Pakistan
Keberhasilan gencatan senjata sementara ini tidak lepas dari peran diplomatik Pakistan. Baik pihak Iran maupun AS secara terbuka mengapresiasi upaya Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dalam meredakan ketegangan di kawasan strategis tersebut.
Trump mengonfirmasi bahwa penangguhan serangan dilakukan hanya beberapa jam sebelum jadwal operasi dimulai, dengan syarat utama pembukaan penuh dan aman Selat Hormuz bagi jalur perdagangan internasional.
Langkah deeskalasi ini diharapkan memberikan napas baru bagi pasar keuangan di negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, yang sebelumnya tertekan oleh tingginya harga komoditas energi dan ketidakpastian keamanan global.
Editor: Redaksi TVRINews





