IMF Akan Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Global Dampak Perang Iran

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) bersiap memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global akibat perang di Iran, sekaligus memperingatkan perekonomian dunia saat ini tidak cukup siap menghadapi guncangan. Hal ini disampaikan oleh Kepala IMF, Kristalina Georgieva, dalam wawancara pada Selasa (7/4).

“(Sebelum serangan Amerika Serikat [AS] dan Israel ke Iran), kami berada di jalur untuk meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026. Namun, dengan dampak perang ini, kami akan menurunkannya,” kata Georgieva, dikutip dari Bloomberg, Rabu (8/4).

Angka terbaru akan dirilis pekan depan saat IMF dan Bank Dunia menggelar pertemuan para pembuat kebijakan global di Washington. Georgieva pun menyampaikan pesannya kepada para pemimpin dunia untuk “bersiap menghadapi kondisi yang berat.”

Katanya, gangguan pasokan dari kawasan Teluk yang kaya energi telah memicu guncangan pasokan negatif yang mendorong kenaikan harga. Oleh karena itu, pengendalian inflasi harus menjadi prioritas utama.

Georgieva juga memperingatkan dunia kini kurang siap menghadapi perlambatan ekonomi besar dibandingkan sebelum pandemi COVID-19. Selain itu, meningkatnya ketegangan antarnegara besar membuat kerja sama internasional dalam menghadapi krisis menjadi lebih sulit, meski frekuensi krisis justru meningkat.

Menurutnya, dunia menghadapi guncangan ini setelah sebelumnya terpukul oleh pandemi COVID-19 dan perang di Ukraina, sehingga ruang kebijakan menjadi semakin terbatas. Ia juga menyoroti hanya sedikit pemerintah yang mengambil langkah signifikan untuk mengurangi beban utang pasca pandemi.

Selain tekanan pada sektor energi, perang juga berdampak pada pasar pupuk global dan diperkirakan memperburuk ketahanan pangan dunia. Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) bahkan memperingatkan hampir 45 juta orang berpotensi jatuh ke dalam kondisi rawan pangan akut jika konflik tidak berakhir hingga pertengahan tahun dan harga minyak tetap di atas USD 100 per barel.

Harga minyak mentah Brent tercatat berada di kisaran USD 110 per barel pada Selasa (7/4), naik dari sekitar USD 70 sebelum perang pecah pada 28 Februari. Harga minyak fisik dan turunannya seperti solar dan bahan bakar pesawat bahkan melonjak lebih tinggi.

Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan meningkatkan eskalasi jika Iran tidak membuka kembali jalur pengiriman energi, sementara Iran menyatakan siap membalas dengan menyerang target energi di kawasan Teluk. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran akan memburuknya krisis energi global.

Dampak Lonjakan Energi Akan Dirasakan Semua Negara

Georgieva menilai dampak tekanan energi akan dirasakan oleh semua negara, tetapi dengan tingkat yang berbeda. Negara yang berada dekat dengan daerah perang atau bergantung pada impor energi akan merasakan dampak lebih besar, terutama jika memiliki ruang fiskal yang terbatas.

Ia menambahkan, bank sentral di berbagai negara perlu menyeimbangkan antara pengendalian inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi agar tidak tertekan terlalu dalam. Hal ini berbeda dengan kondisi saat pandemi, ketika kebijakan fiskal dan moneter dapat dilakukan secara terkoordinasi untuk merespons penurunan permintaan dan pasokan sekaligus.

“Respon terhadap guncangan ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati, karena ini adalah momen yang sangat sensitif,” tambah Georgieva.

Di sisi fiskal, sejumlah pemerintah, khususnya di Asia yang sangat bergantung pada energi dari kawasan Teluk, telah mengambil langkah untuk meredam lonjakan harga energi, seperti memberikan subsidi atau menetapkan batas harga.

Namun, Georgieva mengingatkan beberapa negara mungkin mengambil kebijakan yang tidak sesuai dengan kapasitas fiskalnya. Ia pun mengimbau agar pemerintah menghindari kebijakan seperti pembatasan ekspor komoditas penting yang justru dapat memperburuk kondisi global.

Sebelumnya, IMF memperkirakan ekonomi global akan tumbuh sebesar 3,3 persen tahun ini. Namun kini, untuk kedua kalinya dalam 12 bulan terakhir, pertemuan musim semi IMF akan diwarnai oleh kekhawatiran terhadap ancaman global baru yang dipicu dari Washington, setelah sebelumnya dunia menghadapi dampak perang dagang pada masa pemerintahan Trump.

Georgieva menegaskan dunia kini berada dalam kondisi yang semakin tidak pasti dan rentan terhadap guncangan. Ia menekankan pentingnya fundamental ekonomi yang kuat, institusi yang solid, serta kebijakan yang mendorong produktivitas dan pertumbuhan. Selain itu, ia juga mengingatkan negara-negara untuk membangun cadangan (buffer) saat kondisi mulai membaik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tanam Pohon di Kawasan Hutan Coban Talun, Upaya Kembalikan Hutan
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Kemlu Sebut Pencarian 3 ABK WNI yang Hilang di Selat Hormuz Masih Berlangsung
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Seberapa Siap Indonesia Hadapi Ancaman El Nino Godzilla di Musim Kemarau?
• 8 jam laludisway.id
thumb
Maarten Paes Dirujak Legenda Belanda Usai Ajax Dihajar Klub Mees Hilgers
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Satgas PRR: Progres Pembersihan Lumpur Pascabencana di Aceh Capai 92 Persen
• 14 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.