Penulis: Harry Rahmadani
TVRINews, Subang
Kenaikan harga bahan baku tempe menekan perajin di wilayah Pantura Subang, Jawa Barat. Lonjakan harga kedelai impor dan plastik pembungkus membuat biaya produksi meningkat tajam, memaksa pelaku usaha kecil mencari strategi agar tetap bertahan.
Di sentra perajin tempe rumahan Desa Cilamaya Hilir, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, produksi masih berjalan, namun terbatas akibat kenaikan biaya.
Harga kedelai kini mencapai Rp12.000 per kilogram, naik dari Rp9.000 sebelumnya. Sementara itu, harga plastik pembungkus melonjak 100 persen, dari Rp32.000 menjadi Rp60.000 per kilogram. Lonjakan ini diduga terkait kondisi global, termasuk ketegangan geopolitik yang memengaruhi distribusi dan harga komoditas impor.
Untuk menyiasati situasi ini, perajin memilih tidak menaikkan harga jual, namun memperkecil ukuran tempe agar tetap terjangkau konsumen.
Salah satu perajin, Dimas Purnomo, mengaku langkah ini terpaksa dilakukan demi mempertahankan pelanggan.
“Kalau harga dinaikkan, takutnya pembeli berkurang. Jadi kami akali dengan memperkecil ukuran tempe, yang penting usaha tetap jalan,” ujar Dimas.
Meski strategi ini menjaga pelanggan, margin keuntungan perajin semakin tipis. Mereka berharap pemerintah segera menstabilkan harga kedelai dan bahan pendukung lain.
“Kami berharap ada solusi dari pemerintah, terutama untuk menekan harga kedelai dan bahan pendukung lainnya. Kalau terus seperti ini, banyak perajin bisa berhenti produksi,” tambah Dimas.
Jika kondisi ini berlanjut, usaha tempe rumahan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Pantura Subang terancam berhenti, menimbulkan dampak ekonomi yang luas bagi wilayah tersebut.
Editor: Redaksi TVRINews



