Bisnis.com, JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah diyakini menghadirkan peluang bagi Indonesia untuk menjadi tujuan baru investor yang keluar dari kawasan konflik.
Namun, peluang relokasi investasi ke Indonesia masih dibayangi berbagai hambatan struktural, mulai dari infrastruktur hingga perizinan. Kondisi ini berisiko menghambat realisasi investasi langsung di kawasan industri RI.
Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet menilai gangguan rantai pasok global membuka peluang bagi Indonesia. Namun, tantangan domestik membuat peluang tersebut tidak mudah dimanfaatkan.
“Ketika rantai pasok terganggu, muncul peluang untuk mengambil investor yang mau memindahkan rantai pasok mereka ke tempat lain,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (7/4/2026).
Kendala utama masih berada pada infrastruktur, terutama di luar Pulau Jawa. Banyak kawasan industri potensial belum berkembang optimal akibat keterbatasan konektivitas.
Selain itu, persoalan perizinan dan koordinasi antarinstansi juga menjadi hambatan. Implementasi kebijakan di daerah dinilai belum berjalan efektif.
Biaya logistik yang tinggi turut menurunkan daya saing kawasan industri. Kondisi ini membuat investor cenderung memilih kawasan yang sudah matang.
Yusuf mengingatkan bahwa tanpa perbaikan struktural, investasi berisiko terkonsentrasi di wilayah tertentu. Ketimpangan pembangunan antarwilayah pun berpotensi semakin melebar.
“Kawasan ekonomi khusus Palu terutama, akhirnya tidak berjalan optimal karena masalah infrastruktur,” sebutnya.





