Iran akan membuka lalu lintas maritim Selat Hormuz selama 2 minggu setelah Presiden AS Donald Trump menunda serangan. Kapoksi PDIP Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, mengatakan hal itu menjadi peluang dan ujian bagi Indonesia.
"Dibukanya Selat Hormuz selama 2 minggu ini peluang sekaligus ujian bagi negara kita. Ujian apakah diplomasi kita ini benar-benar bekerja untuk kepentingan nasional," kata Mufti kepada wartawan, Rabu (8/4/2026).
Dia mengatakan hasil diplomasi yang kerap disebut telah dilakukan akan dibuktikan pada momen ini. Mufti menyebut RI harus bergerak cepat menyikapi keputusan Iran membuka Selat Hormuz selama 2 pekan.
"Kita ini sering bicara soal diplomasi, sering lihat pejabat kita ke luar negeri, bahkan Presiden bolak-balik melakukan kunjungan strategis. Itu bagus, itu penting. Tapi hasil konkretnya apa?" kata Mufti Anam.
Dia menyebut dua tanker Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz. Mufti menyinggung Malaysia mampu mengeluarkan kapalnya dari sana di tengah situasi yang memanas.
"Hari ini kita diuji. Dua tanker milik Pertamina masih tertahan. Padahal sekarang Selat Hormuz dibuka. Bahkan sebelumnya, ketika situasi lebih sulit, negara lain seperti Malaysia bisa mengeluarkan kapal tankernya dari Selat Hormuz. Lalu kita bagaimana? Jangan sampai Indonesia terlihat di mata dunia seperti tidak punya daya tawar," ucap Mufti.
(dwr/haf)





