Menhub Dudy Purwaghandi menjelaskan kelanjutan dari proyek Water Taxi di Bali yang akan menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan Canggu. Nantinya, proyek tersebut membutuhkan investasi awal sebesar Rp 1,21 triliun.
Proyek ini akan digarap oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Investasi awal akan digunakan untuk pengadaan tanah pelabuhan, infrastruktur darat, mechanical and electrical, fixture and furniture, dan kapal.
“Estimasi anggaran yang dibutuhkan untuk komponen investasi awal adalah sebesar Rp 1,21 triliun, dan untuk tetap menjamin aspek keselamatan dan keamanan pada keadaan yang tergolong ekstrem dibutuhkan layout dengan penahan gelombang atau breakwater untuk pelabuhan di Bandara Ngurah Rai atau Pantai Sekeh dan di Canggu atau di Pantai Berawa,” kata Dudy dalam rapat kerja Kementerian PU dan Kemenhub bersama Komisi V DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4).
Berdasarkan observasi lapangan, Dudy menjelaskan waktu tempuh dari bandara hingga Canggu harus ditempuh selama 1 sampai 2 jam jika menggunakan kendaraan darat. Dengan adanya Water Taxi nanti, waktu tempuh akan lebih cepat.
Selain itu, proyek Water Taxi juga didasarkan pada tingginya minat wisatawan terhadap Canggu.
“Sedangkan menggunakan Water Taxi diharapkan bisa menempuh maksimal selama 30 menit. Berdasarkan hasil survei terdapat terhadap wisatawan Canggu termasuk 3 besar destinasi wisata dengan minat tertinggi baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara,” ujarnya.
Adapun dalam lini waktu kerja yang ditetapkan, proses pembangunan proyek tersebut dikerjakan mulai Januari 2026 sampai dengan Juli 2027/
“Saat ini PT ASDP yang akan menangani akan mengoperasikan Water Taxi sedang dalam proses usulan studi, adapun pekerjaan konstruksi akan mulai dilaksanakan pada bulan Agustus 2026 hingga Juli 2027,” kata Dudy.
Belum Ada Investor yang Minat MRT-LRT BaliDalam kesempatan yang sama, Dudy juga menjelaskan kelanjutan rencana proyek MRT maupun LRT di Bali. Sampai saat ini, ia mengungkap belum ada investor yang minat terhadap proyek tersebut.
“Sekarang ini belum ada investor lagi yang datang atau mau membicarakan kembali mengenai pengembangan kereta,” ujarnya.
Meski demikian, Dudy berkomitmen untuk terus berusaha mencari dan menawarkan proyek terhadap investor potensial yang ada.
“Jadi kami tetap berusaha untuk mencoba untuk menawarkan kepada pihak-pihak investor yang tertarik kepada pengembangan jalur kereta baik itu MRT maupun LRT di wilayah Bali,” kata Dudy.





