RI Terancam Harga Minyak Mahal dan Dana Asing Pergi Imbas Perang di Iran

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan RI menghadapi risiko tekanan ekonomi akibat lonjakan harga minyak dan keluarnya aliran dana asing (capital outflow) yang dipicu konflik geopolitik, termasuk perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran-AS dengan Israel.

Perry menyoroti kondisi global yang semakin memburuk akibat kebijakan tarif resiprokal serta eskalasi konflik yang berdampak luas pada sektor komoditas, keuangan, dan perdagangan dunia.

"Kondisinya semakin memburuk di tengah ada kebijakan tarif resiprokal, ada perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang kemudian kita sudah banyak tahu berdampak kepada ekonomi dan keuangan global baik jalur komoditas, finansial maupun perdagangan," ujar Perry saat rapat kerja bersama Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (8/4).

Dari sisi komoditas, menurut Perry, gangguan rantai pasok (supply chain) dan kenaikan harga energi menjadi dampak paling nyata. Harga minyak dunia mengalami lonjakan tajam dan fluktuatif dalam beberapa bulan terakhir.

"Bagaimana harga minyak minyak yang meroket di bulan sejak Februari ke Maret bahkan kemarin pernah [USD] 122,95 dan itu terus naik turun, naik turun, naik turun. Harga emas yang selama tahun 2025 meningkat dan juga masih tinggi, itulah dampak pertama," jelasnya.

Kenaikan harga komoditas itu, khususnya minyak, berpotensi menekan kondisi fiskal Indonesia karena meningkatkan beban subsidi energi serta memicu tekanan inflasi.

Selain itu, Perry juga menyoroti dampak di sektor keuangan global, terutama kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury.

"Tapi dengan adanya perang minyak, perang di Timur Tengah ini kemudian kemudian dua-duanya meningkat pesat, karena apa? Karena kenaikan defisit fiskal Amerika Serikat termasuk untuk anggaran perang," ujarnya.

Kenaikan yield tersebut membuat aset keuangan di AS menjadi lebih menarik, sehingga mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Kemudian kenaikan harga obligasi pemerintah Amerika berdampak kepada portfolio inflow maupun dampak yang lain," lanjutnya.

Perry mengungkap tren aliran modal asing kini berbalik arah. Jika sebelumnya masih menunjukkan kecenderungan masuk meski volatil, kini justru terjadi arus keluar yang signifikan.

"Portofolio inflow-nya itu yang tahun lalu itu volatilitas tapi ada tren naik, tapi sejak tahun ini ada terjadi outflow yang besar dari emerging market ke pasar keuangan dunia baik dalam bentuk obligasi saham maupun yang lain," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Perintahkan Bahlil Cabut IUP Tambang Bermasalah di Kawasan Hutan Lindung
• 3 jam laludisway.id
thumb
Pelaku Pencurian Kabur, Diduga Lompat ke Sungai Maros
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Iran Ancam Serang Infrastruktur AS: Mereka Akan Kehilangan Minyak dan Gas
• 18 jam laludetik.com
thumb
Warga di Jombang Kesulitan Dapatkan Gas Elpiji 3 Kg | KOMPAS SIANG
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Bejat! Ayah di Kepri Setubuhi Anak Kandang sejak Usia 7 Tahun
• 2 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.