Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati gencatan senjata selama dua minggu, dengan pembicaraan untuk mencapai kesepakatan perdamaian dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan pada Jumat (10/4/2026) mendatang.
Kesepakatan ini diumumkan oleh Donald Trump Presiden AS pada Selasa (7/4/2026) waktu setempat. Termasuk keputusan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur maritim vital yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia.
Dilansir dari Al Jazeera, berbagai negara menyambut baik langkah ini sebagai awal de-eskalasi ketegangan di Timur Tengah:
Israel
Benjamin Netanyahu Perdana Menteri Israel menyatakan dukungannya terhadap keputusan Trump untuk menangguhkan serangan terhadap Iran.
Namun dengan catatan, gencatan senjata ini “tidak mencakup Lebanon,” di mana konflik dengan Hizbullah masih berlangsung.
Netanyahu menekankan pentingnya memastikan Iran tidak menimbulkan ancaman nuklir, rudal, atau teror bagi Amerika, Israel, negara-negara Arab tetangga, dan dunia.
Irak
Kementerian Luar Negeri Irak menyambut gencatan senjata, tetapi menegaskan bahwa komitmen penuh dari AS dan Iran diperlukan untuk mencapai solusi yang langgeng.
Irak, yang terseret dalam konflik ini melalui kelompok bersenjata yang didukung Teheran dan pasukan AS, menyerukan agar semua pihak menahan diri dari eskalasi lebih lanjut.
Mesir
Kementerian Luar Negeri Mesir menyebut gencatan senjata sebagai “peluang penting untuk membuka ruang negosiasi dan dialog konstruktif.”
Mesir juga akan melanjutkan kerja sama dengan Pakistan dan Turki untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas kawasan, sambil mempertimbangkan kekhawatiran sah negara-negara Teluk.
Jepang
Minoru Kihara Sekretaris Kabinet Jepang menyebut gencatan senjata ini sebagai langkah positif sambil menunggu kesepakatan akhir. Jepang menekankan bahwa de-eskalasi konflik tetap menjadi prioritas utama.
Malaysia
Kementerian Luar Negeri Malaysia menilai gencatan senjata sebagai langkah signifikan menuju perdamaian dan stabilitas Timur Tengah. Malaysia mendesak semua pihak menghormati kesepakatan dengan itikad baik untuk mencegah konflik kembali.
Australia
Anthony Albanese Perdana Menteri dan Penny Wong Menteri Luar Negeri menekankan pentingnya gencatan senjata untuk menjaga stabilitas ekonomi dan energi global.
Mereka mengapresiasi peran Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi sebagai mediator dalam proses negosiasi.
Selandia Baru
Winston Peters Menteri Luar Negeri menyebut gencatan senjata sebagai kabar menggembirakan, meski masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengamankan kesepakatan jangka panjang.
Peters memuji upaya negara-negara penengah seperti Pakistan, Turki, dan Mesir.
Gencatan senjata ini diharapkan menjadi momentum awal bagi proses diplomasi yang lebih luas, sekaligus membuka peluang terciptanya stabilitas jangka panjang di kawasan Timur. (saf/ipg)




